Senin, 24 Maret 2014

PENTINGNYA DIDIKAN ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK

oleh: nur laili
tgl 23 maret 2014

Enam Kesalahan Orangtua dalam Mendidik Anak

  “Enam kesalahan orangtua dalam mendidik anak”sebenarnya sudah lama ingin saya tulis, karena materi ini saya peroleh ketika dulu masih Sekolah Menengah Pertama yang disampaikan oleh seorang ustadz pada pengajian mingguan. Tulisan ini saya buat sebagai arsip pribadi dan untuk mengajak orang tua, pemuda, baik yang ingin menikah, yang sudah menikah, bapak-bapak,ibuk-ibuk, saudara, saudari  agar lebih memahami kehidupan keluarga yang islami yang akan mendatangkan keberkahan dan rahmatnya Allah swt.
Enam kesalahan orangtua dalam mendidik anak
Ikhwafillah,sering kita beranggapan bahwasanya seorang anak bandel,nakal,keras kepala serta kerap melakukan keonaran dan kemaksiatan dikarnakan kesalahan anak itu sendiri yang mungkin disebabkan oleh lingkungan atau pergaulannya. Kita sering lupa bahwasanya seorang anak dilahirkan kedunia ini dalam keadaan suci, tapi orang tuanyalah yang memberi warna hitam ataupun putih kepada perkembangan anak itu sendiri. Allah SWT berfirman:
“Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW telah bersabda:
             “Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”
            Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik  dalam Al-Muwaththa` (no. 507); Al-Imam Ahmad t dalam Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari t dalam Kitabul Jana`iz (no. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no. 4775), Kitabul Qadar (no. 6599); Al-Imam Muslim  dalam Kitabul Qadar (no. 2658)
Anak yang sholeh dan sholehah adalah dambaan setiap orang tua, tidak banyak atau bahkan tidak ada satupun orang tua didunia ini menginginkan anaknya menjadi anak yang jahat, nakal, bahkan durhaka sama orang tuanya. Tidak bisa dipungkiri anak merupakan anugerah dan bisa juga cobaan bagi orang tuanya, anak itu anugerah ketika seorang anak berbakti kepada orang tuanya dan anak itu bisa menjadi cobaan ketika sang anak durhaka kepada orang tuanya. Dalam kenyataannya sering kita temui anak yang sholeh dan sholehah dilahirkan dari Ibu dan Bapak yang sholeh, namun tidak sedikit pula orangtua yang sholeh memiliki anak yang durhaka, misalnya anak nabi Nuh as yang durhaka kepada orangtunya dan tidak mau diajak masuk kedalam perahunya Nabi Nuh as, sehingga Allahswt murka dan meneggelamkannya bersama-sama umat nabi Nuh as yang tidak mau taat kepada ajakan beliau.
Ikhwatifillah, pemuda dan pemudi islam adalah pemuda harapan bangsa, generasi berikutnya akan ditentukan sejauh mana kualitas dari pemuda sekarang. Untuk itu dalam membentuk bangsa yang Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur  harus dimulai dari masyarakat dan keluarga yang islami, hal tersebut tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan, akan tetapi harus ada usaha dari setiap insan manusia untuk memperbaiki diri sendiri, keluarga, masyarakat sampai kepada bangsa dan Negara.
Berikut penulis menjabarkan ada beberapa kesalahan ibu-bapak dalam mendidik anak, sehingga mengapa kemudian anak tidak penurut,nakal,keras kepala bahkan durhaka kepada orang tuanya, antara lain :
Pertama, Salah memilih jodoh
            Jodoh,rizki dan ajal merupakan hal mutlak yang harus diterima oleh setiap orang, serta sudah diatur oleh Allah dengan sebaik mungkin.Dalam hal perkara jodoh meskipun Allah SWT sudah mengatur akan tetapi harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin, kerna Allah berfirman dalam  Al-Quran “ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)
            Oleh sebab itu hal yang harus dipersiapkan adalah memperbaiki diri sebaik mungkin, mendekatkan diri kepada Allah swt, menegakkan amalan yaumi,bermuamalah dengan baik, hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal dengan manusia sehingga kemudian Allah swt lah yang akan memberikan yang kita mau, kerna Dia lah yang menguasai seluruh alam semeseta dan isinya untuk dipersembahkan kepada hamba-hambanya yang selalu taat dan bersyukur.
             Masa muda adalah masa dimana terjadi gejolak yang maha dahsyat di dalam diri manusia serta merasa semua keinginan harus direalisasikan dengan instan, tanpa harus berfikir panjang lagi. Perasaan ingin mencoba sesuatu hal yang baru dapat membutakan mata seseorang, mereka dapat berbuat sesuka hati mereka tanpa memikirkan lagi akibat atau dampak setelah mereka melakukan itu, misalnya menggunakan narkoba, minum-minuman keras, seks bebas dan pergaulan bebas sehingga mengakibatkan perzinaan merajalela, yang berdampak kepada seseorang terpaksa harus menikah kerna harus mempertanggungjwabkan perbuatannya. Pernikahan seperti inilah yang membuat rumah tangga seseorang tidak tentram, sehingga berujung kepada perceraian, akhirnya anak tidak terdidik dan terbina dengan baik, dan sangat mempengaruhi psikologi seorang anak, alhasil anak menjadi keras kepala, tidak mau diatur, ingin menang sendiri dan tidak memiliki sandaran ketika memiliki permaslahan.
             Orang seperti ini menganggap rumah tangga dan pernikahan hanya untuk melegalkan nafsu birahi saja, padahal rumah tangga dan pernikahan adalah merupan pintu syurga bagi seorang pemuda dan pemudi seandainya mereka memahmi hakikat pernikahan itu sendiri.  Allah swt menegaskan dalm surat Ar-rum:21
“Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapat ketenangan hati dan dijadikan-Nya kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berfikir”.
            Dari penjelasan ayat di atas berarti tujuan utama pernikahan adalah untuk  memberikan ketentraman dan ketenangan hati, kerna sesungguhnya kegelisahan selama ini adalah bersumber dari hati yang senantiasa dibisiki dan dibumbui oleh syaitan-syaitan yang senantiasa ingin menjerumuskan manusia kepada berbuat zina. Kemudiaan dengan hati yang tenang dan tentram seseorang akan khusuk beribadah termasuk ketika dalam sholat,
 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yg cukup masyhur 
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,`Wanita itu dinikahi karena 4 hal : karena agamanya, nasabnya, hartanya & kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat (Hadis Riwayat: Bukhari, Muslim)
Rasulullah saw mengajarkan kepada kita dalam hal memilih jodoh, Rasulullah faham akan watak setiap manusia akan kecendrungaannya untuk memilih yang cantik, kaya dan keturunannya baik, namun itu semua akan sirna begitu saja. Akan tetapi ketika seseorang memilih karena agamanya maka ia akan mendapat separuh agama. Artinya ketika seseorang mendapatkan istri yang sholehah berarti ia telah memiliki perisai yang kuat untuk selalu membentengi dirinya ketika ia nanti lalai dalam beribadah kepada Allah maka ada istri yang selalu mengingatkan. Jadi ketika kita sudah salah memilih jodoh berarti kita sudah gagal pada tahap pertama dalam upaya menciptakan rumah tangga yang islami.
 Kedua, salah karena tidak membaca doa ketika hendak bersetubuh
            Ikhwafillah, salah satu etika atau adab yang diajarkan Rasulullah saw kepada kita adalah membaca doa ketika kita ingin bersenggama dengan istri kita, karena jika tidak setan bisa masuk kedalam janin istri kita, dan tak menutup kemungkinan ketika anak kita sudah besar maka dia adalah seorang yang durhaka, melawan orang tua bahkan sering kita dengar di TV seorang anak memperkosa ibunya sendiri.Naudzubillah
            Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas dituturkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Jika salah seorang diantara kalian hendak mencampuri istrinya, maka hendaknya sebelum senggama membaca doa: Bismillaahi, Alloohumma jannibnaashshaythoona wa jannibishaiythoona maa rijaktanaa “Dengan Nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkan syaitan agar tidak mengganggu apa (anak) yang Engkau rizkikan kepada kami.” Dan jauhkan setan dari apa-apa yang Engkau karuniakan kepada kami (anak keturunan). Dengan memanjatkan doa, diharapkan anak yang lahir dari buah percintaan tidak goyah diperdaya setan, akan tetapi serta selalu dekat kepada Allah.
 Ketiga, Salah karena tidak memberi nama yang baik untuk anak
            Ikhwafillah, memberikan nama yang baik pada anak merupakan sesuatu yang harus diperhatikan oleh orang tua selain dari melaksanakan aqiqah dengan menyembelih kambing aqiqah. Sering orang tua memberi nama anaknya dengan nama-nama yang dia sendiri tidak mengetahui artinya, misalnya Yohannes, Ronaldo, Rivaldo, Roney dll. Tidak diragukan lagi bahwa ada kaitan antara arti sebuah nama dengan yang diberi nama. Hal tersebut ditunjukan dengan adanya sejumlah nash syari yang menyatakan hal tersebut.
            Dari Abu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617). Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah ini:
            Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu?” Aku jawab: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Ibnu Al-Musayyib berkata: “Orang tersebut senantiasa bersikap keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)
            Oleh karena itu, pemberian nama yang baik untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban orang tua. Di antara nama-nama yang baik yang layak diberikan adalah nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana sabda beliau : Dari Jabir Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)
 Keempat, Salah kerna tidak memberikan pemahaman agama sejak dini
“Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Q.S. Lukman: 13)
BANYAK orang tua yang berharap kelak anaknya menjadi seorang yang sukses dan pintar. Paradigma seperti ini, sebagian besar ditujukan pada kesuskesan dunia semata tanpa memikiran kesuksesan di akhirat. Padahal, jika para orang tua berpikir jernih tentang arti kesuksesan hidup, pasti mereka akan berpikir, betapa pentingnya menyelamatkan anak dari jerat duniawi (godaan hidup di dunia).
Tidak salah berharap anak sukses, akan tetapi jangan hanya didunia, terlalu sempit harapan itu, karena kesuksesan akhiratnya jauh lebi penting dan tentu lebih besar. Dunia hanya perahu tempat kita berlayar, sedangkan akhirat pelabuhan terakhir kehidupan, dimana tidak akan kita temui usaha untuk hal apapun. Semuanya telah ditentukan di dunia, maka rasional ukuran kesuksesan umat Islam adalah menyelamatkan anak dari gelombang-arus dunia yang bisa menyeret pada kesengsaraan hidup kelak diakhirat.
Oleh karena itu, orang tua muslim seharusnya sudah mulai mementingkan pendidikan agama pada anaknya sejak dini. Pentingnya pendidikan ini disebabkan kewajiban mutlak mendidik anak adalah orang tuanya. Menyayangi anak bukan berarti membuainya dengan kehidupan dunia semata, namun akhiratnya harus jauh lebih dipersiapkan sejak dini.
Sebagai ciri perhatian utama orang tua terhadap pendidikan agama anak. Baik halnya jika mereka (baca: anak-anak) sejak dini dikenalkan pada Tuhan-Nya. Hal itu tidak sulit, mengenalkan beragam asma-asma Allah Swt, menjaganya dari pemahaman mistik yang menjeratnya pada kemusyrikan dan juga memperkenalkan kekuasan-Nya, “siapa yang menciptakan alam raya ini” misalnya,. Hal ini bukan sepertinya mudah, memang sangat mudah, jika para Orang tua mengerti dan melakukannya.
Disamping itu, untuk menumbukan kesemangatan anak dalam menjalani tahap pengenalan hidup. Seorang anak harus dimotivasi, bahwa apabila mereka melakukan amal kebaikan (beramal saleh), maka akan mendapat pahala dan pujian dari Allah Swt. Dan apabila mereka berbuat hal tidak baik, akan mendapat dosa dan celaan dari Allah swt.
Dengan demikian, anak itu akan kritis dan bertanya-tanya tentang Tuhan-Nya, arti pahala dan dosa, alam ini kenapa ada dan miliki siapa dan lain sebagainya. Sudah barang tentu cara mendidik seperti ini akan menumbuhkan dua aspek positif. Pertama, merintis keimanan anak dan yang akan melahirkan perangai yang baik, dan yang kedua menumbuhkan sikap kritis anak terhadap apa yang belum ia ketahui. Sajian ruhaniyah ini, kendati hanya berupa perkenalan, diusahakan agar pemahan tersebut mudah dimengerti.
Seperti pendidikan agama yang telah dipraktekan Luqman terhadap anaknya di dalam al-Qur’an surat Luqman ayat 13, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Kata-kata ini memang masih umum (belum diperhalus) sehingga sukar dimengerti oleh anak. Cuma, yang harus jadi catatan, mengenalkan tentang eksistensi ketuhanan terhadap anak arti pahala dan dosa. Itu akan memotivasi anak berbuat kebajikan seperti, memberi pada sesama, saling tolong-menolong, dan lain sebagainya. Memperkenalkan dosa, akan menumbuhkan kebiasaan takut terhadap kemarahan Tuhan dan merasa bersalah jika melakukan hal yang tidak baik, misalnya mencuri, berkelahi, menghina atau menangisi teman perempuannya (jika ia anak laki-laki), dan hal lain sebagainya.
Kalau hanya mendidik anak dengan menakuti akan kekuatan manusia, misalnya, “jangan menjaili anaknya pak anu…. Nanti bapaknya marah”. Wah, hal ini berbahaya. Bagaimana tidak? Pemahaman itu bisa dimengerti oleh anak karena ia masih kecil, kalau sudah besar, sedah remaja atau pemuda yang gagah dan jantan. Bisa-bisa bukan hanya jail tapi lebih dari itu. Kita harus ingat, memberikan pendidikan agama pada anak sedini mungkin, itu untuk bekal pembentukan karakternya kelak saat ia mencapai usia dewasa (baligh).
Kalau pendidikan agama dilakukan setelah ia dewasa, itu tidak mudah karena kemungkinan besar anak jika sudah dewasa pemikirannya sudah dikonstruk oleh lingkungan. Sehingga, apabila ia diberi pemahaman lain, apalagi tentang agama yang kadang kala tidak bisa diterima akal (irasional), sukar orang tersebut menerimanya. Apalagi, jika ia sudah asyik dengan dunia glamour dan betah bergaul tanpa batasan keagamaan.
Maka, para Orang tua harus membiaskan mendidik anaknya terhadap pengetahuan agama agar ia mempunyai perangai yang baik. Sehingga ia akan terbiasa berbuat kebajikan karena Tuhann-Nya dan menjauhi hal tercela karena Tuhan-Nya, bukan karena ada bapak anu…yang lebih kuat.
Kelima, Salah tidak menyekolahkan anak pada sekolah agama
            “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” [Ar-Rum : 7]
Ayat diatas merupakan peringatan keras bagi orang yang hanya mementingkan urusan dunia sedangkan urusan akhiratnya dilupakan. Sebagian besar orang tua menyerahkan pendidikan anaknya kepada lembaga pendidikan yang berorientasi dunia belaka, sedangkan masalah aqidah, manhaj, adab dan keselamatan di dunia dan akhirat diabaikan.
            Perhatian mereka hanya berfokus kepada sekolah yang bisa mengantarkan anaknya menjadi cerdas dan cepat dalam pekerjaan. Prinsip ini bukan hanya ada pada orang awam saja, tetapi tokoh agama dan da’i yang menggebu-gebu membela Islam lebih senang menyekolahkan anaknya pada lembaga pendidikan umum yang tidak jelas aqidah dan manhajnya daripada menyekolahkan anaknya di pesantren yang dikelola menurut Sunnah.
            Bahkan mereka ragu dan was-was bila anaknya masuk pesantren karena tidak diterima di sekolah umum. Mereka khawatir masa depan anaknya suram, tidak bertitelkan sarjana, tidak diterima sebagai pegawai negeri, tidak bisa mencari rezeki, dan alasan lainnya.
Inilah kondisi umat Islam pada umumnya, bahkan ada yang sampai hati memarahi anaknya dan tidak memberi nafkah kepada anaknya bila mereka putus kuliah karena ingin mencari ilmu Dienul Islam di pesantren, lantaran dianggapnya durhaka kepada orang tua. Mereka tidak mau bertanya mengapa anaknya keluar dari bangku kuliah. Bahkan bila hal itu terjadi pada putrinya, maka diusir dari rumah, apalagi jika memakai cadar atau hijab muslimah dituduhnya mengikuti aliran keras dan semisalnya, karena orang tua merasa hina dan malu kepada tetangga dan temannya.
 Keenam, Salah karena tidak mendoaakan anak
            Doa Ibu bapak untuk anak-anaknya sangat makbul. Jangan sia-siakan kemuliaan yang Allah kurniakan kepada ibubapa iaitu mustajabnya doa ibubapa untuk anak-anak.  
Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majjah menegaskan tiga golongan jika berdoa pasti dimakbulkan iaitu orang dizalimi, orang musafir dan doa ibu bapa kepada anaknya. Rugilah bagi sesiapa yang mensia-siakan peluang ini. Setiap ibubapa pasti mengimpikan anak-anak mereka menjadi orang-orang yang berjaya di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat. Nah, gunakan kemuliaan yang Allah kurniakan ini untuk berdoa untuk anak-anak.
 Berikut ini adalah panduan doa yang masyhur untuk anak-anak.
 Doa supaya anak-anak tetap mengerjakan solat:
Surah Ibrahim ayat 40-41
 Ertinya ” Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mengerjakan solat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doa kami. Tuhanku, ampunilah aku dan ibubapaku serta sekelian sorang-orang mukmin pada hari hisab nanti
Doa mohon keturunan yang soleh, penyenang hati dan menajdi orang yang bertakwa
Surah al-Furqan ayat 74
  Artinya”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari isteri dan keturunan kami menjadi penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa
 Doa anak taat kepada Allah
Surah Al-Baqarah (ayat 128)
 Ertinya ” Wahai tuhan kami, jadikanlah kami berdua ini orang yang patuh dan berserah diri kepadaMU, dan jadikanlah di kalangan keturunan kami umat yang patuh dan berserah diri kepadaMU, serta tunjukkanlah kepada kami syari’at cara-cara ibadah haji kami dan terimalah taubat kami; sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.”
 Doa anak pandai belajar
Surah Anbiya ayat 79
  Artinya ” Maka Kami beri Sulaiman memahami hukum yang lebih tepat bagi masalah itu; dan masing-masing (daripada mereka berdua) Kami berikan hikmah kebijaksanaan dan ilmu (yang banyak); dan Kami tundukkan gunung-ganang dan burung-burung memuji Kami bersama-sama dengan Daud. Kami sememangnya berkuasa melakukan semua ini.”   
Doa-doa lain;
Doa supaya anak rajin belajar dan rajin ke sekolah:
Surah Taha ayat 1 – 5
Doa memohon rahmat
Surah Ali-Imran, ayat 8-9.
Doa anak lembut hati
Surah Al-Anbiya, (ayat 69) atau Al-Hasyar (ayat 22-24) Surah Al-Imran ayat 200
Doa mohon zuriat yang baik 
surah Ali-Imran (ayat 38)
Selagi kita belum menutup mata, selagi itulah kita harus berdoa untuk anak-anak kerana selain membesarkan, membimbing dan memberikan ilmu, doa juga menjadi  penyebab kejayaan anak-anak. Semua orang tahu, anak adalah amanah dari Allah, kita akan ditanya diakhirat nanti tentang tanggungjawab kita dalam membesarkan anak-anak.  
Semoga dengan tulisan “Enam kesalahan orangtua dalam mendidik anak” ini dapat menginspirasi kita semua untuk menciptakan sebuah kenyamanan dan ketentraman dilingkungan keluarga kita sendiri, dan harapan bagi pemuda yang belum menikah untuk bisa membuat graind design keluarga islami sehingga kita merupakan batubata-batabata kecil yang saling menguatkan untuk mewujudkan kejayaan dan kemajuan islam dimasa yang akan datang .

DAMBAAN ORANG TUA

oler;nur laili
tgl:23 maret 2014
Anak Perisai Orangtua
Jika sesorang melihat apa yang telah dialami sang ibu dan segala penderitaannnya sewaktu ia mengandung anaknya hingga melahirkannya, tak diragukan lagi bahwasannya semua jerih payah kedua orang tua itu menuntut sang anak agar berbakti kepada mereka berdua. Sang anak wajib menghormati, menjalin ikatan dan memuliakan orangtuanya.
Tak terlukiskan lagi betapa kesulitan dan kepayahan yang telah dirasakannya selama mendidik anaknya dan memerlihara serta mengurus segala kebutuhannya semasa ia masih kecil. Demikian pula tak ternilai betapa kasih sayang sang ibu yang tulus jika sang anak telah dewasa. Tak kalah pula peranan sang ayah di dalam jerih payahnya mencari nafkah, karena mengemban kewajiban memelihara dan mengasuh serta memberi nafkah dan membiayai pendidikan anaknya.
Kedua orang tua sudah bersusah payah membesarkannya, mendidik dengan nilai-nilai Islam agar menjadi anak yang sholeh, memelihara kesehatan anaknya, memberi makan dan minum serta menjaganya siang dan malam, di saat sehat maupun sakit. Bahkan tak jarang orang tua harus mengesampingkan kebutuhannya demi memenuhi kebutuhan sang anak. Dalam hal ini Al-Qur’an telah mengisyaratkan tentang kesukaran dan penderitanan ibu dan bapak di dalam mengasuh anaknya. Untuk itu Allah swt. Berfirman: „.Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya (pula) dengan susah payah…"(Qs. Al-Ahqaf : 46-15)
Betapa beratnya tanggung jawab orang tua dalam mendidik dan membesarkan seorang anak hingga tumbuh dewasa, Dan tidaklah mudah membesarkan seorang anak sehingga ia bisa menjadi hamba Allah yang taat, sholeh dan patuh atas segala perintah Allah swt. Anak seperti inilah yang merupakan dambaan setiap orang tua. Karena selain sebagai perhiasan kehidupan dunia, anak yang sholeh juga merupakan perisai bagi kedua orang tuanya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Seorang penyair yang bijaksana mengatakan : "Karunia Allah atas hamba-hamba(Nya) sangat banyak. Dan yang paling agung ialah anak-anak yang mulia, mereka adalah perisai orangtua di dunia dan akhirat".
Kewajiban berbakti kepada kedua orangtua
Allah swt memintakan perhatian yang sangat terhadap hak kedua orangtua, sehingga perintah memuliakan itu ditempatkan dalam urutan langsung setelah perintah beribadah kepada Allah dan mengesakan-Nya. Diungkapkan dalam firman-Nya: „Beribadahlah kepada Allah dan jangalah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah terhadap ibu Bapak. (An-Nisa : 36).
Dalam hadits lain disebutkan ,Abdullah ibnu Mas’ud ra berkata: „Aku bertanya kepada Rasulullah saw. : "Amal perbuatan apakah yang paling disukai Allah ?" Rasulullah saw. Menjawab : "Shalat pada waktunya". Aku bertanya kembali "Kemudian apa lagi ? :"Berbaktilah pada kedua orang tua „. Aku bertanya lagi :"Kemudian apa lagi ? Rasulullah saw. Menjawab : "Berjihadlah di jalan Allah". (HR. Imam Bukhari ).
Kewajiban berbuat baik kepada orangtua termasuk menunaikan hak orang tua dan (kewajiban terhadap) mereka berdua, tetap mentaati keduanya dalam rangka taat kepada Allah swt, melakukan hal-hal yang membuat mereka berdua senang dan menjauhi berbuat buruk terhadap mereka.
Rasulullah saw. Telah bersabda : „Ingatlah akan kuberitahukan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar (diulang-ulang hingga tiga kali), yaitu menyekutkan Allah dan menyakiti kedua orang tua „(AlHadits).
Sekali-kali Allah tak akan suka terhadap anak yang membuat murka orangtuanya. Karena sesungguhnya murka orangtua adalah murka Allah juga. Dan barang siapa membuat Allah murka (karena membuat kemarahan orang tua), maka dia akan merugi dunia akhirat.
Beberapa perbuatan-perbuatan yang termasuk menyakiti Ibu dan Ayah antara lain membuat Orang tua Susah atau mencaci maki Ibu dan Ayah. Berbakti terhadap kedua orang tua merupakan suatu ketetapan, yang harus dilakukan selagi tidak menyangkut hal-hal yang mengharamkan barang yang halal atau menghalalkan barang yang haram. Karena sesungguhnya ketaatan terhadap makhluk itu tidak diperbolehkan apabila menyangkut masalah durhaka terhadap Sang Maha Pencipta. " Dan kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah pada-Ku dan ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku lah tempat kembalimu." „Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, janganlah kamu ikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali pada-Ku, kemudian hanya kepadaKu lah kembalimu, maka akan Kuberitakan padamu apa yang telah kamu perbuat." (Luqman 14-15).
Pahala berbakti tidak terputus dengan matinya kedua Orangtua. Dalam suatu hadits dikatakan : „Tatkala kami sedang duduk di hadapan Rasulullah saw. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan Bani Salamah- Lelaki itu bertanya:"Wahai Rasulullah, apakah baktiku terhadap kedua orangtuaku masih tetap ada (pahalanya), jika kulakukan sesuatu sebagai baktiku terhadap mereka berdua sesudah mereka tiada ?". Rasulullah menjawab :"Ya, masih ada, yaitu mendo’akan dan memohonkan ampunan untuk mereka; menunaikan pesan-pesannya, dan mengadakan silaturrahmi kepada orang-orang yang selalu dihubungi oleh kedua orang tuanya, serta memuliakan kawan-kawan dekat mereka. (HR. Abu Daud, Ibnu Mjah).
Berlaku lemah lembut terhadap kedua orang tua
Betapa besar kewajiban anak terhadap orang tua, sampai-sampai anak pun dilarang berpaling sedikit pun dari perintah orang tua, walaupun berkata ‘ah’.
Allah swt berfirman : ‘’Maka jangalah kamu katakan pada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, ucapkanlah pada mereka perkatan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap keduannya serta berdo’alah: ‘’ Wahai Robbku, kasihinilah kedua orang tuaku sebagaimana keduanya mengasihi aku diwaktu kecil". (Al Israa 23-24).
Termasuk juga dalam cara berbicara terhadap orang tua anak harus memperhatikan sopan santun.
Allah swt telah berfirman : „Dan ucapkanlah kepada mereka berdua perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan." (17:23-24).
Apakah yang dimaksud dengan „perkataan yang mulia dalam ayat diatas" ? Sa’id ibnul Musayyab menjawab: „Bagaikan bicaranya hamba sahaya yang berbuat kekeliruan, tehadap tuannya yang galak. Terlebih-lebih bila kita mempunyai orangtua yang sudah berumur, yang mana dituntut kesabaran dan ketelatenan tinggi dalam mengurus mereka.
Do’a untuk ayah dan Ibu
Sehubungan dengan kewajiban mendo’akan ibu dan ayah, Allah swt. Telah berfirman : „dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah selian kepada dia dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu dan Ayah kalian dengan sebaik-baiknya, jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-keduanya sampai berumur lanjut jangan kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua denga penuh kesayangan dan ucapkanlah:"ya Rabbi, kasihinilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah menyantuni aku waktu kecil". (QS 17:23-24).
Perintah yang terkandung di dalam makna ayat ini menunjukkan wajib. Oleh karena itu anak harus mendo’akan untuk kedua orang tuanya agar mereka diberi rahmat oleh Allah. Sahabat Rasulullah bernama Sufya ra pernah ditanya seseorang: „Berapa kalikah do’a yang harus dipanjatkan pleh seseorang untuk kedua orang tuanya dalam sehari, atau satu bulan atau satu tahun ?" Sufya ra menjawab :"Kami kira cukuplah seandainya ia mendo’akan kedua orang tuanya pada akhir tahiyyat shalatnya."
Bentuk-bentuk Memuliakan Ibu dan Ayah
Di antara bentuk-bentuk yang luhur tentang berbakti pada kedua orangtua, ialah sebagaimana yang telah diceritakan oleh Al-Qur'an mengenai Nabi Ismail, yaitu tatkala ayahnya, Nabi Ibrahim berbicara kepadanya tentang perintah menyembelih dirinya : "...Ibrahim berkata : "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahya aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Nabi Ismail menyerahkan dirinya secara suka rela untuk disembelih oleh ayahnya; akan tetapi Allah swt. memuliakannya dan bahkan menggantikannya dengan seekor domba yang besar, seperti yang diceritakan oleh ayat berikut ini: "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (Qs. 37-107).
Dan kisah lainnya yang menceritakan, bahwa pada suatu hari khalifah 'Umar ra. kedatangan seorang lelaki. Lelaki itu berkata kepada sang khalifah: "Sesungguhnya aku mengurusi ibuku sebagaimana ia mengurusiku semasa aku masih kecil. Apakah dengan demikian berarti saya telah menunaikan kewajibanku terhadapnya ?". Khalifah 'Umar ra. menjawab: "Tidak". Lelaki itu kembali bertanya: "Mengapa demikian". Khalifah 'Umar ra. menjawab: "Sesungguhnya ibumu mengurusi dirimu dengan harapan agar engkau hidup, sedangkan engkau negurusi dia dan engkau mengharapkan kematiannya.
Dari kisah diatas dapat diambil sebuah hikmah bahwa jasa seorang Ibu tidak dapat dibalas dengan jas anak terhadap dirinya. Walaupun sang anak sudah berusaha membalasnya dengan cara mengurusinya. Terlebih-lebih bagi anak yang enggan mengurusi orangtuanya yang sudah beranjak tua.
Demikianlah Islam memuliakan kedudukan orangtua dihadapan anaknya. ‘Abdullah ibnu Umar telah menceritakan suatu riwayat bahwasanya Rasulullah saw. Pernah bersabda : "Keridhoan Rabb terletak pada keridhoan kedua orangtua, dan kemurkaan Rabb terletak pada kemurkaan kedua orangtua". (HR. Turmudzi ).
Barangsuapa yang membuat ridhla kedua orangtuanya, berarti ia telah mendapat keridhoan Allah. Yang demikian itu adalahperisai dunia yang dapat memasukkan kedua orangtuanya ke surga.
Disadur dari:
Kepada Anakku Selamatlknalah Akhlakmu, Muhammad Syakir
Kewajiban dan hak Ibu, Ayah dan anak, Ahmad 'Isa 'Asyur.

Minggu, 23 Maret 2014

PENTINGNYA UDARA


Berita Terkait
Di sebuah kelas, seorang guru bertanya kepada murid-murid di hadapannya. “Menurutmu, benda apa di dunia ini yang paling baik pada manusia?”
Murid-murid tampak berpikir keras. Ada yang tatapannya menyapu seisi kelas, seolah mencari sesuatu. Ada yang bisik-bisik dengan teman sebangku. Dan ada yang tetap diam. “Air, Pak Guru!” jawab seorang anak tiba-tiba.
“Kamu benar!” ucap Pak Guru menyambut jawaban seorang muridnya. “Air memang menyediakan kehidupan. Tapi, tidakkah kamu perhatikan, air cuma mengairi manusia-manusia di sekitar aliran sungainya. Manusialah yang harus menjemput air. Bukan sebaliknya!” tanggap Pak Guru begitu lugas. Beberapa saat, suasana kelas hening.
“Cahaya, Pak Guru!” ucap seorang murid yang lain. “Kenapa cahaya?” tanya Pak Guru memancing. “Karena cahayalah kita bisa melihat. Bayangkan jika tanpa cahaya. Dunia akan gelap!” jelas si murid begitu mantap.
“Kamu juga benar!” jawab Pak Guru. “Tapi, tidakkah kamu perhatikan kalau saat istirahat manusia tak butuh cahaya. Ada saatnya cahaya bisa menemani. Ada saatnya tidak,” ungkap Pak Guru kian membuat suasana kelas lebih serius.
“Gimana? Ada yang ingin berpendapat?” tanya Pak Guru memecah keheningan kelas yang mulai agak lama. Tapi, yang ditunggu tak juga muncul. Murid-murid tampak bingung. Tiba-tiba, ada seorang murid mengacungkan jari. “Udara, Pak Guru!” ucapnya begitu yakin.
“Ya, saya lebih setuju pendapat itu!” ucap Pak Guru memberikan respon positif. “Kenapa, Pak?” tanya murid-murid hampir bersamaan.
“Menurut saya,” ucap Pak Guru sambil menatap murid-murid begitu serius. “Udara memberi kebaikan dengan mendatangi manusia. Bukan sebaliknya. Tanpa memamerkan diri, ia akan bersusah payah menyelinap di lubang sekecil jarum sekali pun, demi memenuhi kebutuhan manusia. Udara pula yang selalu menemani manusia, di mana dan kapan pun,” jelas Pak Guru begitu meyakinkan. Dan murid-murid pun mengangguk setuju.
**
Dalam pentas kehidupan, selalu ada pegiat kebaikan. Mereka memberi tanpa pamrih. Mereka pun berlomba untuk bisa menjadi yang paling bermanfaat. Berusaha memberi dengan yang terbaik.
Namun, tidak semua yang baik adalah yang terbaik. Bercermin pada tiga makhluk Allah seperti air, cahaya, dan udara mungkin akan menambah nilai kebaikan. Bahwa, produk kebaikan harus mengejar, bukan dikejar. Dan yang menarik, ia selalu bersama dengan yang membutuhkan, walaupun orang tak menganggap keberadaannya.
Kalau saja pegiat kebaikan memahami peringkat udara, ia pasti tak akan berpuas diri cuma sebagai air atau cahaya. (mn)

TANYA JAWAB !!

Hak Harta Isteri yang Berkerja

“Assalamu’allaykum warahmatullahi wabarakatuh ustadz…”
ustadz, bagaimana sih hukum nya jika suami istri sama-sama bekerja? yang saya tahu harta suami itu harta istri juga, tapi harta istri mutlak milik istri itu sendiri….
  • apa benar itu pak ustadz..??
  • bagaimana jika istri memberikan sebagian dari gajinya untuk orang tua kandungnya sendiri dan tanpa sepengetahuan suami?? apa berdosa kah istri..??
  • dan bagaimana jika suami memberikan uang kepada orang tuanya sendiri tanpa setahu istrinya..??
wassalamu’allaykum wr.wb…
Hamba Alloh
Waalaikumussalam Wr Wb
Kewajiban Suami Bekerja
Islam membebankan pemberian nafkah keluarga ada dipundak para suami bukan para istri. Oleh karena itu dituntut kepada para suami untuk keluar rumah mencari karunia Allah demi memenuhi kewajiban tersebut. Adapun besar pemberian nafkah tidaklah ditentukan besarnya akan tetapi disesuaikan dengan kadar kemampuan mereka.
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا
Artinya : “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah : 233)
أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ
Artinya : “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (QS. Ath Thalaq : 6)
Abu Daud meriwayatkan dari Mu’awiyah Al Qusyairi dari ayahnya, ia berkata; aku katakan; wahai Rasulullah, apakah hak isteri salah seorang diantara kami atasnya? Beliau berkata: “Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian.”
Adapun terhadap para istri dikarenakan tidak ada kewajiban padanya untuk memberikan nafkah kepada keluarganya maka tidak ada kewajiban baginya untuk bekerja mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Islam melarang seorang istri bekerja ke luar rumah tanpa mendapatkan izin dari suaminya kecuali jika si istri telah mengajukan persyaratan disaat akad nikah agar dirinya diizinkan bekerja setelah berumah tangga.
Hal demikian didasarkan pada firman Allah swt :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (QS. Al Maidah : 1)
Juga apa yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf al Muzanni bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan kaum muslimin boleh menentukan syarat kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”
Akan tetapi seorang suami bisa bahkan wajib memutuskan persyaratan tersebut atau tidak memberikan perizinan kepada istrinya bekerja lagi ketika terdapat hal-hal yang dilarang syariat didalam pekerjaannya, seperti : jenis pekerjaannya termasuk yang diharamkan Allah, tidak adanya keamanan terhadap istrinya baik ketika di perjalanan maupun kantor, tidak menjaga adab-adab islami didalam pekerjaannya.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membuat syarat yang tidak ada pada Kitabullah, maka tidak berlaku sekalipun dia membuat persyaratan seratus kali.”
Penghasilan Istri dan Suami
Tentang penghasilan istri maka ia adalah milik dirinya pribadi bukan milik suaminya sebagaimana harta-harta pribadi lainnya, seperti warisan, bisnis atau maharnya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا.
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (QS. An Nisaa : 29)
وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا
Artinya : “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS. An Nisaa : 4)
Dan jika seorang istri bekerja dikarenakan adanya persyaratan disaat akad nikahnya maka tidak diperbolehkan bagi suaminya untuk mengambil hasil gajinya, baik sedikit atau banyak. Akan tetapi jika seorang istri bekerja bukan karena adanya persyaratan disaat akad nikahnya maka hendaklah si istri ikut berkontribusi didalam nafkah keluarganya dikarenakan waktu yang digunakannya untuk bekerja pada dasarnya adalah hak suaminya, demikian menurut Syeikh Muhammad Shaleh al Munjid.
Al Bahuti mengatakan,”Tidaklah seorang istri mempekerjakan dirinya sendiri setelah akad nikah tanpa izin suaminya dikarenakan adanya penghilangan hak suaminya.” (ar Roudh al Murabba’ hal 271)
Begitu juga dengan harta suami maka ia adalah milik suaminya pribadi namun diwajibkan baginya untuk memberikan nafkah kepada keluarganya. Oleh karena itu tidak diperbolehkan bagi seorang istri mengambil, membelanjakan atau menggunakannya tanpa seizinnya.
Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh seorang istri memberikan suatu pemberian kecuali dengan seizin suaminya.”
Imam Nawawi mengatakan bahwa seorang istri tidak berhak mensedekahkan sesuatu dari harta suami tanpa seizinnya demikian pula pembantu. Dan jika mereka berdua melakukan hal demikian maka mereka berdua telah berdosa.” (Shahih Muslim bi Syarh an Nawawi juz VI hal 205)
Namun hal diatas dikecualikan terhadap sesuatu yang tidak seberapa nilainya menurut kebiasaan atau karena kebakhilan suami dalam menafkahkan istrinya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari ‘Aisyah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika seorang wanita bersedekah dari makanan yang ada di rumah (suami) nya bukan bermaksud menimbulkan kerusakan maka baginya pahala atas apa yang diinfaqkan dan bagi suaminya pahala atas apa yang diusahakannya. Demikian juga bagi seorang penjaga harta/bendahara (akan mendapatkan pahala) dengan tidak dikurangi sedikitpun pahala masing-masing dari mereka”.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah bahwa Hindu binti Utbah berkata, “Wahai Abu Sufyan adalah seorang laki-laki yang pelit. Ia tidak memberikan kecukupan nafkah padaku dan anakku, kecuali jika aku mengambil dari hartanya dengan tanpa sepengetahuannya.” Maka beliau bersabda: “Ambillah dari hartanya sekadar untuk memenuhi kebutuhanmu dan juga anakmu.”
Memberikan Orang Tua dari Penghasilan Masing-masing Tanpa Seizin Pasangannya
Berdasarkan penjelasan diatas telah diketahui bahwa masing-masing dari suami istri berhak atas kepemilikan hartanya masing-masing. Namun terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang keharusan izin suami bagi seorang istri didalam membelanjakan hartanya sendiri. Sebagian mereka berpendapat harus dengan izin suaminya sementara itu jumhur ulama tidaklah mengharuskannya.
Menurut Syeikh Hisamuddin ‘Afanah bahwa pendapat yang kuat adalah yang menyatakan bahwa tidak ada keharusan izin dari suami bagi seorang istri yang hendak membelanjakan atau menggunakan hartanya sendiri.
Diantara alasan-alasan yang digunakan beliau adalah :
1. Bahwa hadits-hadits yang digunakan oleh mereka yang mengharuskan perizinan dari suaminya adalah lemah dan tidak bisa dipakai sebagai dalil.
2. Jumhur mengatakan bahwa seandainya kita menerima keshahihan hadits-hadits yang digunakan oleh mereka yang beresebrangan maka pastilah tetap akan didahulukan hadits-hadits kami daripada hadits-hadits meeka dikarenakan lebih shahih.
3. Sesungguhnya keumuman dalil yang digunakan oleh jumhur lebih kuat daripada hadits-hadits yang tidak bersih dari cela.
4. Seandainya kita menshahihkan hadits-hadits tersebut maka sesungguhnya hadits-hadits itu menunjukkan perbuatan baik seorang istri kepada suaminya bukan menjadi sebuah keharusan. (Fatawa Yas Aluunaka juz VII hal 182 – 187)
Dengan demikian diperbolehkan bagi seorang istri memberikan suatu pemberian kepada orang tuanya dari hartanya sendiri meski tanpa ada izin dari suaminya apalagi jika orang tuanya termasuk fakir atau yang tidak berpenghasilan. Namun demikian sebaiknya bagi seorang istri untuk membicarakan dan mendiskusikan keinginanya itu kepada suaminya terlebih dahulu.
Adapun seorang suami yang ingin memberikan sesuatu kepada orang tuanya maka tidaklah ada keharusan mendapatkan izin dari istrinya terlebih lagi jika orang tuanya termasuk fakir atau tidak berpenghasilan selama ia memiliki kelebihan dari nafkah yang diberikan kepada keluarganya. Bahkan pemberiannya kepada orang tuanya yang demikian keadaannya menjadi sebuah kewajiban.
Akan tetapi jika si suami tidak memiliki kelebihan harta dari nafkah yang diberikan keluarganya maka tidaklah ada kewajiban baginya memberikan sesuatu kepada orang tuanya. Dan jika dia memberikannya maka hal itu adalah sebuah perbuatan baik seorang anak kepada orang tuanya dan hendaklah hal ini didiskusikan dengan istrinya dan mendapatkan persetujuannya. Hal itu dikarenakan dalam keadaan seperti itu maka memberikan nafkah kepada istri adan anak-anaknya lebih diutamakan daripada orang tuanya.
Imam Muslim meriwayatkan dari dari Tsauban ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik dinar (uang atau harta) yang dinafkahkan seseorang, ialah yang dinafkahkan untuk keluarganya, untuk ternak yang depeliharanya, untuk kepentingan membela agama Allah, dan nafkah untuk para sahabatnya yang berperang di jalan Allah.” Abu Qilabah berkata; Beliau memulainya dengan keluarga.”

Sabtu, 22 Maret 2014

TEGASNYA HUKUMAN ISLAM

Sepatah kata Abu Anas Madani:
Syariah Islam adalah suatu perundangan yang Allah SWT syariatkan ke atas hamba-Nya untuk menjaga kemaslahatan dan kebaikan buat mereka.
Ini adalah suatu rahmah, Allah sebagai Pencipta Yang Maha Mengetahui dengan karenah dan keperluan makhluk-Nya.
Kalau dibiarkan manusia memikirkan sendiri untuk maslahah mereka tentulah pemikiran mereka tidak sampai ke tahap yang sepatutnya.
Sebagai suatu usaha kami untuk menyampaikan kebaikan dan memberi kefahaman kepada masyarakat tentang perkara ini, khasnya pada zaman yang ada orang mempersendakan Hukum Allah khasnya Hudud, maka diharapkan usaha ini ada manfaatnya.


KATA PENDAHULUAN

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستهدية ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيئات اعمالنا
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم وعلى آله وضحبه وسلم كثيرا.


{ وماكان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضللا مبينا} (٣٦)

“Dan tidaklah harus bagi orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan mempunyai hak membuat pilihan sendiri dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul telah membuat sesuatu keputusan. Siapa yang tidak mematuhi hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya bererti ia telah terjerumus dan kesesatan yang amat nyata.’’ (al-Ahzab : 36)
Buku ini lahir tepat ada waktunya, di mana isu hukum hudud menjadi topik perbincangan hangat di kalangan orang-oang Islam sendiri dan menerima reaksi yang berbelah-bagi dari berbagai-bagai sektor penduduk Malaysia.
Buku ini dilahirkan dengan tujuan memberi gambaran asas tentang hukum hudud yang dipertikaikan itu supaya ia dapat difahami dengan penjelasan yang betul, mudah dan terlepas dari sebarang sentimen politik dan semangat perkauman yang buta agar isu yang besar ini dapat difikir dan diteliti dengan penuh tanggungjawab oleh setiap pihak yang berminat untuk mencampuri dalam isu ini terutama bahagian umat Muslim yang menerima Allah SWT sebagai Tuhan dan menerima Muhammad Rasulullah SAW sebagai pemimpin mereka yang ulung di sepanjang zaman.
Menurut prinsip keimanan dan aqidah Islamiah, setiap Muslim dan Muslimah wajib mempertahan dan membela agamanya, dan konsep membela agama tidak hanya terbatas dalam erti kata mengamal dan mempertahankan peraturan-peraturan ibadat, peraturan nikah cerai dan peratuan muamalah sahaja, malah merangkumi usaha mempertahankan konsep-konsep pemerintahan, pentadbiran dan kehakiman yang telah digariskan oleh Allah SWT melalui al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW dan antaranya ialah hukum hudud yang dipertikaikan sekarang ini.
Sehubungan dengan ini, mana-mana Muslim dan Muslimah yang tidak sanggup mempertahankan kesucian hukum hudud atau merasa keberatan untuk menganggap hukum hudud sebagai hukum-hukum Allah Taala yang wajib dipatuhi atau bertindak liar dengan mempertikaikan hukum hudud atau mempersenda-sendakan hukum hudud atau menyifatkan hukum hudud sebagai undang-undang barbarik, kejam dan tidak berperikemanusiaan, maka bererti ia tidak sanggup menjunjung hukum Allah SWT dan secara terbuka menentang al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW dan setiap mereka yang tergolong dalam kategori orang-orang yang menentang al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW secara langsung adalah tergolong di dalam kumpulan manusia yang menentang Allah dan Rasul-Nya.
Untuk menyelamatkan ramai orang Islam dari keruntuhan iman dan kemusnahan aqidah mereka yang suci kerana terlibat secara sedar atau tanpa sedar dalam kegiatan mempertikaikan hukum hudud yang digariskan oleh al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW itu, maka terpaksa dilakukan dengan segera untuk melahirkan sebuah buku khusus megenai hukum hudud dengan tujuan membentangkan keterangan hukum-hukum itu supaya ramai orang Islam mendapat gambaran tentang hukum hudud yang sebenar dan tidak terus terkeliru dan tertipu dengan gambaran-gambaran khayalan yang melulu hingga hukum hudud dipandang sebagai ancaman-ancaman dan undang-undang buas yang menakutkan dan mengerikan, sedangkan hukum hudud yang diturunkan Allah SWT itu suci dan bersih dari segala gambaran yang melulu, dusta dan menghinakan itu.
AAM HUDUD; Hukum, Hikmah, Kritikan & Jawapan
Semua pihak yang ikhlas sedar bahawa pelaksanaan hukum hudud yang diperkatakan sekarang ini masih dalam peringkat perancangan persiapan. Tiada siapa yang sanggup berdakwah bahawa hukum hudud boleh dilaksanakan sekarang juga dengan menggunakan kitab-kitab Feqah yang ditulis di abad-abad yang lampau tanpa memerlukan penapisan dan semakan yang rapi atau tanpa memerlukan usaha-usaha kemaskini atau tanpa memerlukan perubahan-perubahan yang wajar dalam struktur kehakiman dan pentadbiran undang-undang negara.
Pendek kata, persiapan itu adalah satu perkara, dan kesahihan hukum hudud sebagai undang-undang dari syariat Allah Taala yang wajib didaulatkan oleh umat Islam yang mempunyai kuasa membentuk kerajaan dan menggubal undang-undang adalah satu perkara yang lain, yang tidak boleh dikelirukan dengan isu persiapan yang juga turut menjadi kewajipan.
Apa yang penting wujud pada peringkat sekarang ialah keinsafan dan keazaman untuk menegakkan hukum hudud. Apabila keinsafan dan keazaman yang ikhlas wujud, maka perlaksanaan hukum hudud lambat laun akan muncul di alam realiti. Dalam perjuangan di peringkat persiapan, setiap Muslimin dan Muslimat berkewajipan memberi sumbangan dan sokongan tanpa mengira parti dan menjauhi diri dari membuat komen-komen negatif atau memalu gendang-gendang sumbang yang membayangkan kearah keraguan.
Hukum hudud merupakan sebahagian dari kanun jenayah Islam dan kanun jenayah Islam merupakan sebahagian dari syariaat Allah SWT yang wajib dijunjung, diamal, dan dipertahankan oleh setiap Muslimin dan Muslimat.
Perlaksanaan kanun jenayah Islam di zaman Rasulullah SAW telah dilakukan pada zaman Madinah, ketika mana Islam berjaya menegakkan negara Islam yang berdaulat, yang mempunyai kuasa untuk menegakkan undang-undang dan peraturan-peraturan. Oleh sebab itulah setiap masyarakat Islam di mana-mana negeri dalam mana-mana generasi dan zaman sekalipun, wajib mendaulatkan kanun jenayah Islam apabila mereka berkuasa membentuk kerajaan dan menggubal undang-undang negeri, kerana perlaksanaan kanun jenayah Islam merupakan perkembangan yang kemuncak bagi dakwah Islam di samping ianya merupakan keperluan asasi bagi mengawal kesejahteraan umat.
Keutuhan sebuah negara Islam adalah dipertahankan oleh dua kekuatan, iaitu kekuatan keimanan dan taqwa yang tertanam dalam hati rakyat jelatanya, dan kekuatan undang-undang yang menjadi teras kekuatan lahiriah negara itu.
Taqwa dan undang-undang merupakan dua kekuatan berkembar negara Islam yang tidak boleh dipisahkan. Sebarang usaha untuk memisahkan dua kekuatan itu akan memusnahkan identiti sesebuah negara Islam. Memang diakui bahawa hukum hudud atau kanun jenayah Islam umumnya yang diwarisi umat Islam pada hari ini belum dilengkapkan dengan teknik-teknik dan kaedah-kaedah pelaksanaan undang-undang yang moden seperti undang-undang ‘penal code’ yang ada pada hari ini adalah kerana beberapa sebab oleh sejarah dan politik.
Antaranya, yang pertama, kesuburan dan perkembangan kanun jenayah Islam telah terbantut sejak negara-negara Islam memasuki era kelemahan dan kejatuhan, di mana kanun jenayah Islam dari segi amalan tidak lagi berfungsi dalam masyarakat-masyarakat Islam dan oleh kerana itu ia tidak mendapat kesempatan untuk terus berinteraksi dengan realiti kehidupan manusia hingga ke zaman moden.
Kedua; Kerana ia ditulis di abad-abad yang silam berlandaskan realiti-realiti kehidupan umat Islam di zaman silam, akan tetapi walaupun begitu, ia tetap kekal dengan ciri-ciri semulajadinya yang sanggup mengikuti perkembangan zaman dan perubahan kehidupan manusia. Lunas-lunas dan kaedah-kaedahnya yang universal (sejagat) yang dapat dipakai pada semua zaman dan tempat.
Jika kepakaran teknikal ahli perundangan di zaman ini bergabung dengan kepakaran ilmiah Islamiah ahli perundangan Islam yang telah lama wujud di negara kita dan negara-negara Islam yang lain, sudah tentu kanun jenayah Islam dapat diletakkan dalam satu acuan baru yang dapat mencerminkan dinamisme (kehadapan) dan realismenya yang utuh untuk menghadapi kehendak realiti kehidupan moden.
Buku ini adalah hasil dari saringan bebas dari sebuah buku perundangan Islam yang besar yang paling mutakhir dan sedang mendapat populariti yang tinggi dan meluas di dunia Islam iaitu buku:

الفقه الإسلامي وأدلته

(Kefahaman Perundangan Islam Dan Dalil-dalilnya)
Hasil karangan ulama Islam semasa yang terkemuka, Doktor Wahbah az-Zuhayli -hafizahullah-.
Bahagian yang dimasukkan dalam buku yang kecil ini ialah bahagian hukum hudud mengenai jenayah-jenayah zina, qazaf (membuat tuduhan zina ke atas orang lain), mencuri, merompak dan minum arak sahaja dengan tujuan agar buku ini tidak menjadi tebal dan cukup untuk mengenal garis-garis besar hukum hudud dengan beberapa perinciannya yang penting.
Setiap pembaca yang menatap buku ini dengan hati nurani yang terbuka dan dengan kesedaran seorang mukmin yang mempunyai hubungan yang peka dengan Allah dan Rasul-Nya akan melihat dan menginsafi bahawa hukum hudud itu adalah undang-undang yang diaturkan oleh kebijaksanaan Allah SWT yang mengetahui tabiat hati dan naluri manusia yang diciptakannya. Ia bukannya undang-undang yang digaris secara sewenang-wenangnya yang hanya sesuai dengan zaman unta dan masyarakat padang pasir yang bersahaja, malah selanjutnya ia akan memperolehi keyakinan bahawa hanya hukum hudud ciptaan Allah sahaja yang mampu menyelamatkan tamadun manusia dari keruntuhan akhlak dan kemusnahan sosial akibat kebebasan perlakuan jenayah seks, jenayah mencuri dan merompak, jenayah membunuh dan menceroboh dan merosakkan.
Masyarakat Amerika yang membangga-banggakan dirinya sebagai negara yang terkuat dan mempunyai tamadun yang paling tinggi dan sebagai satu-satunya negara yang layak menjadi polis dan hakim dunia dapat dijadikan contoh yang amat jelas bagaimana ketamadunan negara itu sedang dicemari keruntuhan akhlak dan perlakuan jenayah yang berleluasa hingga ketamadunannya tidak lagi mencerminkan konsep tamadun dalam erti kata yang murni dan sebenar.
Gaya perundangan jenayah barat kebelakangan ini menjurus ke arah kaedah bersimpati dengan penjenayah dan meringankan hukuman terhadap mereka. Hasil yang paling jelas dari kaedah ini ialah penghapusan hukuman bunuh atau ‘Capital Punishment’, memandang ringan kepada jenayah zina dan jenayah minum arak dan mengenakan hukuman yang menggalakkan ke atas pencuri-pencuri dan perompak-perompak. Akibat trend perundangan yang lembut inilah penjenayah-penjenayah yang keji itu berkembang begitu pesat dan subur dan mengakibatkan penderitaan-penderitaan yang amat berat kepada masyarakat di seluruh dunia dan menyebabkan rancangan pembesaran penjara-penjara sama penting dengan pembesaran kolej-kolej.
Dari penjelasan buku yang kecil ini, setiap pembaca dapat melihat bahawa pelaksanaan hukum hudud dari awal hingga akhirnya adalah diikat dengan berbagai-bagai syarat yang ketat dan boleh digugurkan dangan berbagai-bagai keraguan, malah dalam kes rejam yang paling berat sekalipun, orang yang dihukum masih mempunyai kelonggaran untuk melarikan diri semasa menjalani hukuman dan dalam sesetengah kes hudud yang lain, hukuman hudud tergugur sekiranya dengan taubat sebelum penjenayah itu ditangkap.
Ciri-ciri hukum hudud yang menarik ini membayangkan bahawa matlamat hukum hudud adalah semata-mata untuk mewujudkan kesan pencegahan yang mendera dan memeritkan bukannya untuk membinasakan penjenayah demi melindungi kesejahteraan masyarakat. Di samping itu konsep hukuman dan balasan dalam Islam bukan semuanya diselesaikan di dunia ini, malah seluruh insan akan dibicarakan kembali dalam pengadilan terakhir di hadapan Allah SWT pada hari akhirat, oleh sebab itulah dalam hukum hudud terdapat lorong-lorong yang selamat untuk memberi peluang kepada pesalah itu menginsafi diri mereka di dunia atau bertaubat sebelum menghadapi pengadilan di akhirat buat kali terakhir.
Dengan syarat-syarat yang ketat dan faedah-faedah keraguan (benefit of doubts) yang luas yang diperuntukkan di dalam hukum hudud tidak boleh disifatkan sebagai undang-undang mandatori yang mutlak seperti Akta Undang-Undang Dadah Merbahaya yang dilaksanakan di negeri ini, malah perselisihan pendapat di antara ahli-ahli perundangan Islam dalam mentafsirkan sesetengah peruntukan di dalam hukum hudud, telah menjadikan hukum hudud suatu undang-undang yang banyak memberi ruang kepada pertimbangan dan ijtihad para hakim untuk membuat keputusan yang berhemat.
Ia jauh berbeza dari undang-undang dadah merbahaya ciptaan manusia yang tidak memberi ruang-ruang pertimbangan perikemanusiaan yang logik yang dapat memberi kepuasan dan ketenangan kepada hati nurani yang merasa bertanggungjawab di hadapan Allah terhadap setiap nyawa yang dihukum oleh mereka.
Pelaksanaan hukum hudud sebagaimana yang dapat diperhatikan dari penjelasan buku ini lebih mendalam dan lebih serius dalam mendokong aspek rahmat dan kasihan belas yang tidak terdapat di dalam undang-undang dadah merbahaya ciptaan manusia yang tidak sanggup membezakan secara berperikemanusiaan di antara pengedar-pengedar dadah yang sebenar dengan pengambil-pengambil upah yang miskin, jahil dan terdaya, juga di antara pengedar-pengedar dadah yang sebenar dengan orang-orang yang bernasib malang yang tercebak dalam deeming provision atau dalam definisi pemilikan dadah mengikut undang-undang dadah.
Setengah-setengah hakim diakhir pembicaraan dadah merbahaya yang berbunyi: “Saya tidak mempunyai pilihan selain dari menjatuhkan hukuman gantung sampai mati ke atas kamu” adalah merupakan sesuatu pernyataan yang mengungkapkan kebuntuan dan kekecewaan hati nurani yang peka untuk menemui jalan-jalan rahmat dan kasihan belas.
Saya percaya setiap pembaca yang meneliti syarat-syarat pelaksanaan hukum hudud dengan sadar dan insaf dari awal hingga akhir akan membuat kesimpulan yang spontan bahwa hukum hudud walaupun bersifat mandatori amat sukar dilaksanakan melainkan ke atas penjenayah-penjenayah yang yang amat jahat dan benar-benar wajar dihukum atau penjenayah yang amat jujur dan amat tinggi keinsafan dan taqwanya hingga sanggup meminta hukuman dijalankan ke atasnya walaupun diberi isyarat oleh hakim supaya tidak membuat pengakuan seperti itu.
Di samping itu pelaksanaan hukum hudud tidak seharusnya membimbangkan orang-orang bukan Islam, kerana hukum hudud bertujuan mewujudkan suasana aman yang sebenar kepada semua penduduk negara tanpa mengira kaum dan bangsa. Mereka tidak seharusnya merasa takut kepada hukum hudud selama mereka menaruh kebencian dan bersikap menentang perlakuan jenayah-jenayah hudud yang keji itu atau selama mereka tidak bercita-cita untuk melibatkan diri di dalam jenayah-jenayah yang jahat itu.
Atau selama mereka tidak rela kedai-kedai mereka dicuri atau selama mereka tidak rela melihat isteri dan anak-anak gadis mereka dilarikan dan dirogol dengan kejam atau selama mereka bercita-cita untuk tidur nyenyak dalam suasana aman dan selesa tanpa mengenakan pada pintu-pintu rumah mereka dengan berbagai-bagai penggera yang canggih dan tanpa memasang kunci yang berlapis-lapis seolah-olah penjara-penjara kecil di tengah bandar.
Cara pelaksanaan hukuman rejam, hukuman sebat, hukuman potong tangan dan hukuman bunuh yang dijalankan di hadapan mata satu perhimpunan ramai akan membuat para penjenayah yang menjalani hukuman itu benar-benar merasakan bahawa mereka sedang dihukum oleh orang ramai. Di sinilah letaknya faktor-faktor keberkesanan hukum hudud yang dapat melahirkan kesan-kesan pencegahan yang berkesan sehingga membuat setiap orang yang bercita-cita untuk melakukan jenayah-jenayah hudud yang keji itu terpaksa berfikir sedalam-dalamnya sebelum melangkah ke alam jenayah itu.
Sebelum mengakhiri kata pendahuluan ini adalah wajar ditekankan sekali lagi bahawa kewajipan mempertahankan hukum hudud dari segi ilmiah dan kaedah perlaksanaannya bukan sahaja menjadi kewajipan cerdik pandai Islam yang tergolong dalam istilah alim-ulama seperti yang ditanggapkan selama ini, malah ia menjadi kewajipan semua pengamal undang-undang yang beragama Islam di seluruh negeri ini, yang terdiri dari hakim-hakim dan peguam-peguam yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaandan pengendalian undang-undang Negara.
Selaku seorang muslim yang bertuhankan Allah SWT dan mahir dalam perundangan negara, mereka berkewajipan mempelajari dan mengkaji selok-belok hukum hudud bersama para ulama dan membuat perakuan-perakuan yang membuka jalan ke arah pelaksanaan hukuman hudud yang diturunkan oleh Allah Taala. Mereka tidak wajar berselindung di sebalik lalang dengan alasan yang dangkal bahawa tugas mereka hanya menafsirkan undang-undang, bukan menggubal undang-undang, kerana di dalam realiti Islamnya, mereka adalah hakim-hakim dan peguam-peguam yang beragama Islam yang bertanggungjawab mengamal dan mengembangkan undang-undang Islam mengikut saranan-saranan yang berada di dalam keupayaan mereka selaku ahli undang-undang.
Sikap redha dan berpuas hati dengan undang-undang ciptaan manusia yang diambil dari Barat atau sebagainya adalah bertentangan dengan aqidah Islamiah yang dianut oleh mereka. Begitu juga sikap tidak peduli atau memandang remeh kepada undang-undang ciptaan Allah SWT akan meletakkan mereka dalam barisan orang-orang yang tidak menghormati dan menjunjung tinggi undang-undang Allah SWT, iaitu satu barisan yang bertenggek di tepi jurang kemusnahan aqidah dan keruntuhan iman.
Sebenarnya, kepakaran teknikal dan pengalaman-pengalaman yang luas dari para hakim dan peguam beragama Islam itu dapat memberi sumbangan-sumbangan pelaksanaan yang amat bermakna dalam penyusunan qanun jenayah Islam umumnya dan undang-undang hudud khususnya, di zaman kebangkitan umat Islam yang ingin kembali kepada sistem hidup Islam setelah gagal dengan undang-undang ciplak ciptaan manusia yang semata-mata berlandaskan kepentingan-kepentingan keduniaan.
Di samping itu, pengalaman-pengalaman kerajaan Arab Saudi serta kerajaan Sudan dan juga percubaan-percubaan kerajaan Pakistan dapat dijadikan panduan-panduan yang amat berguna dan membina dalam usaha mengemaskinikan teknikaliti pelaksanaan undang-undang hudud dalam dunia yang serba maju dan moden ini. Kita yakin dengan usaha yang sedemikian rupa dari para alim ulama yang berganding bahu dengan para hakim dan para peguam yang beragama Islam, negara ini lambat-laun akan dapat menikmati naungan di bawah undang-undang Islam yang adil dan aman.
KEMBALI KEPADA UNDANG-UNDANG ALLAH
Semakin jauh kita mengkaji perundangan Islam dan kitab-kitab yang disusun oleh ahli perundangan Islam semakin kuat kepercayaan kita terhadap kemantapan syariat Islam dalam mengatur urusan kehidupan masyarakat, juga terhadap kebaikan pemikiran Islam, kebijaksanaan ahli-ahli perundangan Islam dan keagungan perundangan Islam, kerana hukum-hukumnya bukan sahaja dilandaskan di atas dalil-dalil naqli dari al-Quran dan as-Sunnah, malah ia menembusi begitu jauh di dalam jiwa dan akal manusia untuk mendapatkan dalil yang menguat dan menyokongnya sehingga ke masa kini, iaitu dalil yang menyokongnya dari aspek pelaksanaan yang praktikal dan menyumbangkan kekuatan kepadanya untuk kembali berfungsi semula dalam mengatur dan mengendalikan hubungan-hubungan social, hubungan-hubungan dagang, dan hubungan dua hala yang berlangsung setiap hari di antara individu-individu, juga dalam mengembalikan hubungan antarabangsa.
Tujuan memilih dan mengambil undang-undang Islam ialah untuk menegakkan sebuah masyarakat Islam yang kukuh, terhormat, bersih, aman dan tenteram dimana tiada ruang untuk ditawarkan kehinaan atau menyerah kalah kepada musuh, masyarakat yang tidak memberi tempat kepada perlakuan jenayah dan kegiatan-kegiatan yang tidak menentu, masyarakat yang tidak memberi pertimbangan kepada kelakuan-kelakuan pelik dan menyeleweng, perbuatan yang korup, atau mungkar dan maksiat. Ia bertindak ke arah itu secepat mungkin mengikut prinsip-prinsip Islam terutama prinsip memberi perlindungan kepada perbuatan jenayah yang tertutup atau dilakukan secara tidak terbuka dan prinsip menolak dan mengenepikan hukum-hukum hudud bukan hukum ta’zir apabila terdapat keraguan.
Di antara faktor yang benar-benar menarik kita kepada undang-undang Islam ialah umat Muslimin di zaman kita telah pun mencuba segala barangan import di dalam bentuk undang-undang dan peraturan-peraturan, idea-idea dan budaya-budaya serta berbagai-bagai ilmu pengetahuan yang bersifat materialistik yang sempit atau kebendaan semata-mata, tetapi pada akhirnya golongan yang insaf dan sedar telah kembali kepangkuan Islam setelah sistem import itu gagal memajukan individu dan masyarakat, dan setelah terbuka tembelangnya yang selama ini ditutup dengan lapisan cat tamadun yang palsu, yang mana dari tamadun palsu inilah kita telah mengambil sesuatu yang rendah serta tidak bermutu dan meninggalkan intan atau sesuatu yang berguna lalu kita tegakkan kehidupan umat Islam mengikut sistem-sistem dan budaya-budaya import itu yang telah mengakibatkan kerosakan kepada nurani dan fikiran-fikiran mereka.
Di samping menanamkan keraguan dan sikap tidak yakin kepada diri sendiri, menggoncang nilai, sifat-sifat yang mulia dan akhlak yang murni dan pada akhirnya sistem itu gagal kecuali mengekalkan kita menjadi satu umat yang lemah yang bergantung pada orang lain, satu umat yang tidak diketahui identitinya atau satu umat yang tidak mempunyai keperibadiaan yang tersendiri sama ada keperibadian Islam atau keperibadian Arab, sama ada keperibadian Timur atau Barat.
Dengan dorongan yang kuat dari pemikiran yang sedar atau tidak sedar, masyarakat Islam menjurus ke arah Islam sebagai jalan keluar atau jalan selamat, tetapi malangnya orang-orang Islam hanya menumpukan kegiatan mereka dalam bidang ibadat sahaja menyebabkan sistem hidup mereka berada di suatu sudut dan kegiatan ibadat mereka berada di sudut yang lain. Mereka berada dalam keadaan dua jalan yang terumbang-ambing dan bertentangan antara satu sama lain, mereka berada dalam keadaan bingung dan bosan, mereka berada dalam keadaan serba salah yang baru walaupun tidak seburuk berpisah terus daripada Islam.
Tiada jalan lain yang dapat menyelamatkan umat Islam dari keadaan dua jalan yang terumbang-ambing itu selain dari pelaksanaan syariat Allah SWT secara menyeluruh dalam semua bidang muamalah, jenayah, hudud dan lainnya, serta mengubah undang-undang ciptaan manusia. Sehubungan dengan ini, sinar harapan telah kelihatan, di mana langkah–langkah yang positif sedang menjurus kearah menegakkan kembali undang-undang syariat di negeri-negeri Arab dan di negeri-negeri Islam untuk membersihkan masyarakat dari keruntuhan akhlak dan penyelewengan, menegakkan keperibadian sendiri dan mengendalikan segala urusan kehidupan masyarakat mengikut pemikiran Islam baik dalam bidang politik ataupun sosial ekonomi mahupun dalam bidang ketenteraan, juga untuk menghancurkan segala belenggu kehinaan, membasmi segala bentuk pencerobohan dan pencabulan, memerangi segala jenis eksploitasi di samping menghidupkan kepercayaan kepada diri sendiri dan menyatukan umat Islam di bawah panji-panji al-Quran dan sunah Rasulullah SAW dan mengambil manfaat dari kajian–kajian perundangan Syariah yang tidak terkeluar dari dua sumber tersebut.
Kini orang-orang Islam telah sedar bahawa satu-satunya jalan untuk mencapai kemuliaan, menolak pencerobohan musuh dan membebaskan bumi Islam dan hak-haknya yang telah dirampas itu ialah bersatu-padu di bawah panji–panji jihad untuk menegakkan agama Allah SWT sama seperti perpaduan dan pengemblengan kekuatan yang telah dilakukan oleh musuh terhadap kita. Mereka telah memerangi kita di bawah lambang ideologi kebangsaan dan perkauman mereka yang keji.
Mengenal hukum–hukum aqad, peraturan–peraturan jihad yang digariskan dalam perundangan Islam, hukum-hukum hudud dan jenayah, sistem kehakiman Islam yang adil dan prinsip-prinsip undang-undang Islam merupakan satu cabang dari pokok besar yang mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi ahli-ahli undang–undang dan kehakiman di dunia ini.
Tetapi yang amat menyedihkan ialah wujudnya sesetengah golongan orang Islam yang jahil tentang kajian perundangan Islam yang subur itu telah menyifatkan kajian itu sebagai longgokan undang-undang yang tidak tersusun kerana didorong oleh perasaan kasih mereka kepada barat dan kerana ditekan oleh perasaan rendah diri dan tidak percaya kepada diri sendiri dan kerana jahil dengan tuntutan-tuntutan kehidupan dalam pelbagai bentuk andaian-andaian dan kemungkinan yang wujud dalam proses perlaksanaan undang-undang yang ada sekarang ini.
Mereka merasa senang dan selesa dengan hidangan undang-undang ciptaan Barat dan lebih bangga menyebut pendapat Tuan Fulan.. dan Mr. Fulan.. dari menyebut pendapat tokoh-tokoh ulama Islam yang besar yang telah berjaya mengeluarkan pendapat-pendapat, konsep-konsep dan hasil-hasil karya yang menjadi idaman para pembesar, alim-ulama, ahli-ahli falsafah dan para cendikiawan.
Kepada generasi umat Islam di zaman ini kita menyeru, marilah kita kembali kepada perundangan Islam yang kaya dan subur ini, marilah kita menghayati mata-airnya yang nyaman dan menceduk undang-undang yang sesuai dengan zaman kini. Semoga Allah SWT memberi taufik kepada kita untuk memilih undang-undangnya yang mudah dan selesa, semoga Allah mengurniakan keyakinan yang kukuh, pemikiran yang matang dan perasaan yang peka untuk memilih peraturan-peraturan yang baik, juga untuk mengesan kebenaran dan mencegah kebatilan dari akar umbinya.
Di sinilah kita mengetahui bahawa perjuangan menegakkan panji-panji Islam memerlukan kepada usaha menyiapkan satu tapak yang kukuh untuknya dalam bentuk mewujudkan realiti yang praktikal untuk perundangan Islam, pemikiran Islam dan dakwah Islam yang bersifat membina, kerana dakwah Islam bukannya kenyataan bersifat sentimen yang berkobar-kobar atau bukannya suatu kerangka kosong yang tidak mempunyai isi dan metodologi. Usaha mewujudkan tapak yang kukuh itu adalah bertujuan untuk menjamin kesinambungan dakwah agar ia tidak dapat digugat oleh pukulan ribut taufan yang kencang atau digugat oleh angkara tipu daya musuh.
Dalam pengajian perundangan Islam dari semua alirannya, terdapat bukti yang kukuh bahawa undang-undang Islam sesuai untuk dilaksanakan pada setiap zaman. Ia merupakan satu jalan yang betul untuk merealisasikan syakhsiah Islamiah yang padu kerana Islam berfungsi sebagai faktor yang membina dan menyatu-padu, bukannya faktor yang memecah-belah sebagaimana yang dilihat oleh pemikir–pemikir yang dangkal fahamannya. Perselisihan pendapat dalam kalangan ahli-ahli perundangan Islam hanya berlaku dalam isu–isu kecil atau isu–isu ijtihadiyah sahaja, bukan dalam persoalan–persoalan prinsip dan tujuan.
Oleh sebab itulah dirasakan amat perlu agar pengajian perundangan Islam itu dibentangkan dengan gaya penjelasan yang mudah dengan berlandaskan dalil-dalil yang sahih untuk menimbang-tara dan membandingkan pendapat-pendapat perundangan di samping memudahkan jalan untuk mentarjih (menguatkan) atau memilih pendapat–pendapat yang lebih baik dan sesuai dengan aliran zaman.
Inilah perkara yang saya ingin lakukan dalam buku ini melalui usaha–usaha yang bersungguh–sungguh, –Allah SWT sahaja yang mengetahuinya– untuk menjelaskan setiap pendapat perundangan dan mengetahui hukum setiap masalah yang terdapat dalam kitab-kitab feqah yang lama dengan harapan dapat memberi manfaat yang sebaik-baiknya.
HUKUM HUDUD
(Hudud adalah kata majmuk) dari “Al-Hadd” yang bermakna “kawalan” atau “cegahan”. Dari asal kata yang sama penjaga atau pengawal pintu dipanggil Haddad kerana ia mengawal dan mencegah seseorang dari memasukinya. Hukuman-hukuman dinamakan sebagai hukum-hukum hudud kerana ia berfungsi mencegah orang ramai dari melakukan jenayah-jenayah yang dikenakan oleh hukum hudud. Istilah Hududullah bererti perlakuan-perlakuan yang diharamkan dan dicegah oleh Allah SWT.
Firman Allah s.w.t:

تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا

“Itulah perlakuan-perlakuan yang diharamkan Allah oleh kerana itu janganlah kamu dekatinya.” (al-Baqarah: 187)
Istilah Hududullah juga bererti “hukuman-hukuman yang telah ditentukan Allah” yang tidak seharusnya dilakukan seseorang. Hukum-hukum ini dinamakan Hudud kerana ia mencegah seseorang dari melakukannya.
Firman Allah s.w.t:

تِلْك حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَعْتَدُوهَا

“Itulah hukum-hukum yang telah ditentukan. Oleh kerana itu janganlah kamu mencabulinya.”(al-Baqarah: 229)
Hudud mengikut pengertian syara’ yang diguna pakai mazhab Hanafi ialah hukuman-hukuman yang ditentukan dan diwajibkan Allah SWT sebagai hak Allah Taala. Hukum-hukum Ta’zir tidak ditentukan Allah (malah diserahkan kepada budi-bicara pemerintah. Hukum Qisas (balasan bunuh) juga tidak dinamakan Hudud walaupun ia merupakan suatu hukuman yang telah ditentukan Allah SWT kerana hukum Qisas merupakan hak manusia bukannya hak Allah, kerana itu hukum Qisas boleh dimaafkan dan dicari perdamaian, tetapi semua hukuman-hukuman itu dinamakan hudud kerana ia mencegah perlakuan jenayah seperti itu daripada berlaku.
Maksud hukum hudud itu disifatkan sebagai hak Allah SWT kerana hukum hudud diperundangkan dengan tujuan untuk melindungi maruah, keturunan, harta benda, akal dan nyawa dari ganguan dan pencerobohan, tetapi sesetengah hukum hudud seperti hukuman perzinaan dan minum arak adalah hak Allah Taala semata-mata dengan erti, ia adalah hak masyarakat. Dan sesetengah hukum hudud yang lainnya seperti hukum hudud qazaf (membuat tuduhan berzina terhadap orang lain) merupakan hak Allah dan hak manusia, iaitu satu hukum dimana hak peribadi berkongsi dengan hak umum.
Hukum hudud mengikut istilah kebanyakan ulama yang bukan dari aliran Hanafi ialah hukuman yang ditentukan oleh syara’ sama ada ianya hak Allah SWT atau hak manusia.
JENIS-JENIS HUKUM HUDUD
Jenis-jenis hukum hudud ialah hukum hudud kerana berzina, hukum hudud kerana membuat tuduhan zina, hukum hudud kerana mencuri, hukum hudud kerana merompak, hukum hudud kerana meminum arak dan sebagainya. Mengikut mazhab imam Hanafi, hukum hudud itu lima:
1- Hukum hudud kerana mencuri.
2- Hukum hudud kerana berzina.
3- Hukum hudud kerana minum arak
4- Hukum hudud kerana mabuk.
5- Hukum hudud kerana tuduhan zina.
Hukuman hudud kerana merompak termasuk dibawah hukum mencuri dengan pengertian yang lebih luas kemudian ditambah dua hukum yang lain mengikut mazhab-mazhab selain daripada mazhab Hanafi, iaitu hukum hudud kerana Qisas dan hukum hudud kerana murtad. Jadi, hukum hudud mengikut mazhab ini adalah tujuh, dengan alasan bahawa hukum hudud itu, adalah hukuman yang ditetapkan oleh Allah SWT yang perlu diikuti dan tidak boleh diingkari seseorang, juga dengan alasan hukum hudud mengikut pendapat yang sah adalah meliputi hukuman kerana memelihara hak Allah dan hukuman kerana memelihara hak-hak manusia, antaranya ialah hak Qisas.
Berdasarkan penjelasan ini kita mempunyai dua istilah mengenai hukum hudud.
Pertama:
Istilah mengikut mazhab Hanafi yang masyhur, iaitu mengkhususkan hukum hudud kepada hukuman yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, iaitu hukuman yang bertujuan melindungi kepentingan masyarakat, iaitu lima jenis hukuman yang telah diterangkan sebelum ini dengan memasukkan hukum hudud merompak kedalam hukum hudud mencuri, juga dengan membezakan hukuman hudud kerana meminum arak yang diperbuat daripada anggur dengan hukuman hudud kerana minum minuman yang memabukkan yang diperbuat daripada bahan selain daripada anggur, iaitu seperti minuman yang diperbuat daripada beras belanda, madu, cuka dan sebagainya.
Kedua:
Istilah kebanyakan ahli perundangan yang bukan dari mazhab Hanafi,iaitu perkataan hukum hudud diistilahkan kepada setiap hukuman yang telah ditetapkan Allah SWT sama ada hukuman itu bertujuan untuk melindungi hak Allah Taala atau hak individu-individu. Hukuman-hukuman itu adalah sebanyak tujuh jenis hukuman termasuk hukuman Qisas dan hukuman murtad. Saya akan menyentuh tujuh jenis hukuman ini dengan menjelaskan bahawa jumlah jenayah-jenayah hudud ialah lapan jenis iaitu berzina, membuat tuduhan zina, minum minuman yang memabukkan, mencuri, merompak, menderhaka atau merompak, murtad dan membunuh dengan sengaja yang dikenakan hukuman Qisas. Semua hukuman ini dikira sebagai hukuman-hukuman yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Ujar Al-Mawardi: Perbuatan-perbuatan jenayah ialah perbuatan yang terlarang disisi undang-undang syara’ dan ia dicegah dengan hukum hudud dan hukum Ta’zir.
HIKMAH DIPERUNDANGKAN HUKUM HUDUD
Hikmah dan tujuan diadakan hukum hudud atau hukuman-hukuman ialah untuk mencegah dan menahan manusia dari melakukan jenayah-jenayah itu dan untuk melindungi masyarakat dari kerosakan dan membersihkannya dari sebarang perlakuan jenayah.
Ujar Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala:
Antara rahmat Allah SWT ialah Dia mengenakan hukuman terhadap perlakuan jenayah yang berlaku diantara sesama manusia yang melibatkan nyawa, tubuh badan, maruah dan kehormatan, harta benda, iaitu perlakuan jenayah membunuh, meluka, membuat tuduhan zina dan mencuri. Dan Allah SWT telah mengatur kaedah-kaedah untuk mencegah jenayah-jenayah itu dengan undang-undang yang amat halus, kukuh dan menguatkuasakannya dengan sebaik-baik cara yang dapat mencapai maksud pencegahan itu tanpa melampaui batas yang wajar diterima olehseorang penjenayah.
Oleh sebab itu, Allah SWT tidak mensyariatkan hukuman potong lidah atau bunuh ke atas pembohong dan tidak pula mengenakan hukuman memotong kemaluan ke atas mereka yang berzina atau mengenakan hukuman bunuh ke atas pencuri, malah Allah SWT mengenakan hukuman yang sesuai dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Lemah Lembut, Maha Pemurah dan Maha Adil dengan tujuan untuk menghapuskan jenayah yang mendatangkan bala dan mala petaka serta untuk membasmi keinginan-keinginan untuk melakukan kezaliman dan pencerobohan agar setiap orang berpuas hati dengan limpah kurnia dan rezeki yang dikurniakan Allah SWT kepadanya dan tidak tamak untuk merampas hak-hak orang lain.
ADAKAH HUKUMAN POTONG TANGAN ITU SUATU
HUKUMAN YANG KEJAM?
Pelaksanaan hukuman potong tangan adalah merupakan satu cara pencegahan yang sesuai dengan penjenayah yang mengancam masyarakat. Ia merupakan hukuman yang memberi rahmat dan keamanan kepada orang ramai umumnya. Dalam Memorandum Penjelasan Kanun Hudud bagi jenayah mencuri dan merompak bilangan 148 tahun 1972 yang dikeluarkan di Libya terdapat kenyataan berikut:
Sesetengah golongan yang ragu dan was-was dengan senang hati menyifatkan hukuman potong tangan (dalam jenayah mencuri dan merompak) sebagai hukuman yang tidak sesuai dengan tamadun dan kemajuan serta menuduh hukuman itu sebagai kejam dan bengis. Mereka sebenarnya menumpukan pandangan mereka hanya kepada aspek kekerasan hukuman, tetapi mereka berpura-pura lupa kepada kekejaman jenayah itu dan kepada kesan-kesannya yang buruk terhadap masyarakat. Mereka pura-pura menangis kerana tangan si pencuri yang berdosa itu dipotong, tetapi mereka tidak merasa takut kepada jenayah mencuri dan berbagai-bagai kesan sampingannya yang buruk.
Berbagai-bagai lagi kesalahan dilakukan kerana jenayah mencuri. Pelbagai pencerobohan dilakukan ke atas orang-orang perseorangan dan banyak kecederaan parah dialami oleh orang-orang yang tidak berdosa kerana jenayah mencuri. Berapa banyak harta benda dan harta kekayaan telah diragut dan dirampas dan berapa ramai orang yang hidup tanpa rumah tangga kerana harta mereka dicuri dan kerana sumber rezeki mereka terputus akibah dicerobohi pencuri, tetapi semua akibat ini tidak pernah difikirkan oleh orang-orang yang merasa kasihan belas kepada tangan-tangan yang hanya sedikit yang dipotong untuk menjamin keamanan dan ketenteraman orang ramai.
Apakah mereka tidak menyoal diri sendiri manakah yang lebih selesa kepada masyarakat di antara memotong satu dua tangan setahun yang dapat menghapuskan jenayah mencuri dan mungkin selepas itu mungkin tiada lagi tangan yang dipotong dan orang ramai dapat hidup aman, di mana harta benda dan nyawa mereka terjamin selamat atau pencuri itu hanya dihukum penjara dan kerja berat untuk sementara atau untuk selama-lamanya bagi jenayah mencuri sahaja. Di dalam kebanyakan negeri di dunia, puluhan ribu kes jenayah kecurian berlaku setiap tahun.
Jenayah mencuri tidak pernah putus malah kian bertambah dari semasa ke semasa, kian beragam dan kian merebak. Kita masih mendengar berita bank-bank yang dirompak dengan nekad, keretapi-keretapi yang disamun di siang hari dan gudang-gudang yang dirompak. Jenayah mencuri harta benda sering dilakukan serentak dengan jenayah mencederakan, membunuh dan merogol mangsa-mangsa. Kes-kes yang seperti ini berlaku tidak terhingga banyaknya dan tidak dapat dicegah walaupun telah digunakan berbagai-bagai ilmu, kepandaian dan kuasa pihak tertentu.
Perlakuan jenayah-jenayah yang serius tidak dapat dicegah melainkan dengan mengenakan hukuman-hukuman berat yang berkesan. Sesuatu hukuman itu tidak dapat berfungsi sebagai hukuman jika ianya bersifat lembut dan lemah. Hukuman yang berjaya ialah hukuman yang dapat menumpaskan jenayah bukannya hukuman yang memberi kemenangan kepada jenayah.
Yang anehnya, ahli-ahli perundangan ciptaan manusia tidak memandang hukuman bunuh yang dikenakan ke atas sesetengah jenayah yang lain sebagai hukuman yang berat, sedangkan hukuman itu jauh lebih berat dari hukuman potong tangan yang dikenakan ke atas jenayah mencuri dan merompak. Konsep hukuman yang sebenar harus dilihat dari aspek kesesuaian dan keberkesanannya dalam membanteras setiap jenayah.
Satu hakikat yang tidak dapat dipertikaikan ialah hukuman memotong tangan pencuri adalah jauh lebih baik dari membiarkan jenayah itu bermaharajarela di dalam masyarakat dan mengancam keamanan dan ketenteraman yang membawa kepada berbagai-bagai kemungkaran dah jenayah yang lain.
Sejarah telah membuktikan bahawa masyarakat Islam selepas melaksanakan hukum hudud telah berada dalam keadaan aman dan tenteram pada keselamatan harta benda, maruah, kehormatan dan sistem pemerintahannya sehingga pernah penjenayah sendiri datang menyerahkan dirinya supaya dijalankan hukuman ke atasnya kerana ingin membesihkan dirinya dan menebus dosanya.
Negeri Hijaz dan seluruh negeri di Semenanjung Tanah Arab pada zaman yang lampau merupakan gelanggang-gelanggang yang aktif kepada jenayah mencuri dan menyamun yang ganas. Mereka melakukan jenayah itu sehingga ke atas rombongan jemaah haji lelaki dan perempuan yang ingin berkunjung ke Baitullah. Hanya sebilangan kecil sahaja dari mereka yang selamat pulang ke negeri mereka.
Tetapi apabila kerajaan Saudi menjalankan hukum hudud terhadap dua jenayah itu, maka negeri itu terus aman, jenayah mencuri berhenti dan geng-geng penyamun terus hilang sehingga negeri itu menjadi contoh negeri aman yang mengagumkan, di mana terhapusnya perlakuan jenayah mencuri dan menyamun walaupun jumlah penjenayah yang dipotong tangan itu sangat kecil dan tidak setanding dengan jumlah mangsa yang tidak berdosa yang terkorban dalam satu serbuan oleh pihak penjenayah. Mengikut rekod, jumlah pencuri yang dikenakan hukuman potong tangan hanya enam belas orang sahaja dalam masa dua puluh empat tahun.
Bertitik-tolak dari keterangan yang lalu, ternyatalah bahawa kekerasan yang bercirikan hukuman potong tangan itu sebenarnya merupakan suatu rahmat yang menyeluruh kepada masyarakat kerana terselamat dari keganasan jenayah kecurian dan rompakan serta kesan-kesannya yang amat buruk. Tindakan memotong tangan dan kaki sebilangan penjenayah yang amat kecil yang melanggar perintah Allah SWT itu adalah lebih selesa dari membiarkan jenayah itu bertindak secara berleluasa terhadap ribuan mangsa yang tidak berdosa menyebabkan jiwa, tubuh dan harta kekayaan mereka terkorban, malah kekerasan hukuman hudud merupakan rahmat kepada mereka yang terlintas di hati untuk melakukan jenayah itu, mereka terpaksa membatalkan angan-angan itu apabila mereka terbayangkan kepada kekerasan hukuman yang akan diterimanya nanti.
Kekerasan hukuman akan menghalangnya dari terjerumus ke dalam gaung jenayah. Hukuman itu merupakan satu kekerasan dalam suatu skop yang tertentu sahaja, tetapi ia membawa rahmat yang luas kepada seluruh masyarakat. Inilah sejajar dengan Syariat Islam selaku Syariat yang berlandaskan rahmat dan kasihan belas.
Bukankah Allah telah menyatakan dalam firmanNya:

كتب على نفسه الرحمة

“Allah telah mewajibkan dasar rahmat kasihan belas ke atas diri-Nya.” (al-An’aam:12)
Bukankah Allah Taala sifatkan diri-Nya dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih yang kita sebut pada setiap waktu.
Sementara Rasulullah SAW pula bersabda:
الراحمون يرحمهم الرحمن
“Orang-orang yang bersifat kasihan belas dirahmati Allah Yang Maha Penyayang dan Kasihan belas.”
Malah kita diperintah untuk menunjukkan sikap kasihan belas kepada makhluk haiwan. Jika beginilah sifat Syariat Islam, tentulah hukum-hukumnya dalam kanun hudud tidak boleh disifatkan sebagai kejam dan berat, malah hukuman-hukuman itu meupakan rahmat kepada seluruh orang ramai.
Melihat kesan hukuman hudud ke atas suatu golongan penjenayah yang kecil sahaja tanpa melihat kesannya yang baik ke atas masyarakat secara keseluruhan merupakan satu pandangan yang terbalik dan songsang, malah pandangan itu lebih hampir dan merupakan satu pandangan yang mempunyai kepentinggan dan diragui kejujurannya, kerana yang seharusnya menjadi asas pandangan ialah kepentingan penjenayah-penjenayah yang telah sabit kesalahan mereka tanpa sebarang keraguan yang dapat mengenepikan hukuman itu.
Walaupun demikian, janganlah dilupakan bahawa Islam amat berhati-hati agar hukuman hudud tidak dilaksanakan kecuali perlakuan jenayah itu telah disabitkan bersalah dengan yakin. Sehubungan dengan ini, Islam telah mengenakan prosedur-prosedur untuk membuktikan jenayah dan mengenepikan hukuman hudud apabila terdapat keraguan-keraguan yang munasabah. Langkah-langkah ini adalah bertujuan untuk mengalakkan pelaksanaan hukuman hudud kecuali dalam kes-kes yang tertentu sahaja agar tercapai keberkesanannya dalam mencegah perlakuan jenayah dan mengenakan kawalan yang maksima ke atasnya.
Malah pelaksanaan sesetengah hukum hudud seperti hukuman sebat –mengikut prinsip-prinsip Syar’iyah– lebih disukai oleh sesetengah penjenayah dari dikenakan hukuman penjara selama beberapa waktu sama ada panjang atau pendek. Hukuman rejam pula merupakan hukuman bunuh secara terbuka yang amat memeritkan. Ia merupakan hukuman masyarakat ke atas mereka yang sanggup mencabul maruah dan kehormatan.
PERBEZAAN DI ANTARA KANUN HUDUD DAN KANUN TA’ZIR
Ciri-ciri perbezaan antara keduanya ialah:
1. Hukum hudud dan Qisas telah di tetapkan oleh Allah SWT dari awal lagi di dalam jenayah-jenayah yang tertentu, di mana hakim tidak boleh menggunakan budi bicaranya dalam menilai hukuman-hukuman itu mengikut keadaan-keadaan penjenayah atau mengikut suasana-suasana berlakunya jenayah itu. Adapun hukuman-hukuman Ta’zir (keseksaan), maka ia terserah kepada budi-bicara hakim, di mana ia boleh menimbang dan memilih hukuman yang sesuai mengikut keadaan, penjenayah, keperibadian, kesalahan-kesalahannya yang telah lepas dan mengikut keberkesanan atau kesesuaiannya dengan hukuman itu, juga mengikut keadaan suasana perlakuan jenayah itu dan kesannya kepada masyarakat.
Walaupun demikian, kuasa membuat pertimbangan dan penilaian yang diberikan kepada hakim itu adalah terikat dengan peaturan-peraturan yang ketat terutama dalam aspek memilih hukuman-hukuman keseksaan yang sesuai dengan perlakuan-perlakuan kesalahan yang termasuk dalam perbuatan masiat. Untuk maksud itu, seorang hakim disyaratkan untuk mempunyai pengetahuan hukum yang mencapai tahap mujtahid mengikut mazhab Syafie, Maliki dan Hanbali. Di sini ternyatalah bahawa kuasa yang diberikan kepada hakim itu bukan kuasa mutlak yang terikat terhadap mana-mana peraturan-peraturan yang tertentu, di mana pihak tertuduh tidak mendapat jaminan-jaminan keadilan.
2. Hukum hudud wajib dilaksanakan oleh pemerintah, begitu juga hukuman Qisas jika tidak dimaafkan oleh wali darah. Hukuman-hukuman hudud tidak boleh dimaafkan, dibebas, disyafaat dan digugur dengan sebarang alasan dan sebab, tetapi di dalam hukuman Ta’zir di sana terdapat ruang perselisihan pendapat di antara tokoh perundangan Islam. Mengikut pendapat tokoh perundangan Islam yang besar, iaitu Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Ahmad, hukuman Ta’zir wajib dilaksanakan oleh pemerintah sama seperti hukuman hudud, tetapi boleh dimaafkan jika pemerintah berpendapat kemaafan itu boleh mendatangkan kebaikan atau melihat penjenayah itu boleh menjadi baik dengan cara-cara yang lain daripada mengenakan hukuman keseksaan seperti dikenakan celaan atau sebagainya.
Sementara Imam as-Syafi’e berpendapat bahawa hukuman Ta’zir tidak diwajibkan ke atas pemerintah untuk melaksanakannya. Ia diberi kebebasan melaksanakannya atau tidak melaksanakannya, kerana hukuman Ta’zir adalah hukuman yang tidak ditentukan oleh syara’. Ia sama seperti hukuman pukulan yang dilakukan oleh seorang bapa, guru atau suami.
Punca pebezaan pendapat ini ialah kerana hukuman-hukuman Ta’zir melibatkan perkara-perkara yang sesetengahnya merupakan hak Allah SWT seperti menghina sahabat-sahabat Rasulullah SAW atau menghina al-Quran dan sebagainya atau sesetengahnya merupakan hak individu yang boleh dimaafkan seperti, perbuatan memukul atau memaki seseorang dan sebagainya.
3. Hukuman Ta’zir sesuai dengan prinsip umum yang menetapkan perlu wujudnya perbezaan hukuman kerana perbezaan jenayah, sedangkan hukum hudud sama sahaja. Ia tidak berbeza dengan sebab besar kecil perlakuan jenayah, iaitu ia sama sahaja di antara kesalahan mencuri satu dinar dengan kesalahan mencuri seribu dinar, di antara peminum arak yang minum sedikit atau yang meminum arak dengan banyak.