oler;nur laili
tgl:23 maret 2014
Anak Perisai Orangtua
Jika sesorang melihat apa yang telah dialami sang
ibu dan segala penderitaannnya sewaktu ia mengandung anaknya hingga melahirkannya,
tak diragukan lagi bahwasannya semua jerih payah kedua orang tua itu menuntut
sang anak agar berbakti kepada mereka berdua. Sang anak wajib menghormati,
menjalin ikatan dan memuliakan orangtuanya.
Tak terlukiskan lagi betapa kesulitan dan kepayahan yang telah dirasakannya selama mendidik anaknya dan memerlihara serta mengurus segala kebutuhannya semasa ia masih kecil. Demikian pula tak ternilai betapa kasih sayang sang ibu yang tulus jika sang anak telah dewasa. Tak kalah pula peranan sang ayah di dalam jerih payahnya mencari nafkah, karena mengemban kewajiban memelihara dan mengasuh serta memberi nafkah dan membiayai pendidikan anaknya.
Tak terlukiskan lagi betapa kesulitan dan kepayahan yang telah dirasakannya selama mendidik anaknya dan memerlihara serta mengurus segala kebutuhannya semasa ia masih kecil. Demikian pula tak ternilai betapa kasih sayang sang ibu yang tulus jika sang anak telah dewasa. Tak kalah pula peranan sang ayah di dalam jerih payahnya mencari nafkah, karena mengemban kewajiban memelihara dan mengasuh serta memberi nafkah dan membiayai pendidikan anaknya.
Kedua orang tua sudah bersusah payah membesarkannya,
mendidik dengan nilai-nilai Islam agar menjadi anak yang sholeh, memelihara
kesehatan anaknya, memberi makan dan minum serta menjaganya siang dan malam,
di saat sehat maupun sakit. Bahkan tak jarang orang tua harus mengesampingkan
kebutuhannya demi memenuhi kebutuhan sang anak. Dalam hal ini Al-Qur’an
telah mengisyaratkan tentang kesukaran dan penderitanan ibu dan bapak di
dalam mengasuh anaknya. Untuk itu Allah swt. Berfirman: „.Ibunya mengandungnya
dengan susah payah, dan melahirkannya (pula) dengan susah payah…"(Qs. Al-Ahqaf
: 46-15)
Betapa beratnya tanggung jawab orang tua dalam
mendidik dan membesarkan seorang anak hingga tumbuh dewasa, Dan tidaklah
mudah membesarkan seorang anak sehingga ia bisa menjadi hamba Allah yang
taat, sholeh dan patuh atas segala perintah Allah swt. Anak seperti inilah
yang merupakan dambaan setiap orang tua. Karena selain sebagai perhiasan
kehidupan dunia, anak yang sholeh juga merupakan perisai bagi kedua orang
tuanya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Seorang penyair yang bijaksana
mengatakan : "Karunia Allah atas hamba-hamba(Nya) sangat banyak. Dan yang
paling agung ialah anak-anak yang mulia, mereka adalah perisai orangtua
di dunia dan akhirat".
Kewajiban berbakti kepada kedua orangtua
Allah swt memintakan perhatian yang sangat terhadap hak kedua orangtua, sehingga perintah memuliakan itu ditempatkan dalam urutan langsung setelah perintah beribadah kepada Allah dan mengesakan-Nya. Diungkapkan dalam firman-Nya: „Beribadahlah kepada Allah dan jangalah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah terhadap ibu Bapak. (An-Nisa : 36).
Dalam hadits lain disebutkan ,Abdullah ibnu Mas’ud ra berkata: „Aku bertanya kepada Rasulullah saw. : "Amal perbuatan apakah yang paling disukai Allah ?" Rasulullah saw. Menjawab : "Shalat pada waktunya". Aku bertanya kembali "Kemudian apa lagi ? :"Berbaktilah pada kedua orang tua „. Aku bertanya lagi :"Kemudian apa lagi ? Rasulullah saw. Menjawab : "Berjihadlah di jalan Allah". (HR. Imam Bukhari ).
Allah swt memintakan perhatian yang sangat terhadap hak kedua orangtua, sehingga perintah memuliakan itu ditempatkan dalam urutan langsung setelah perintah beribadah kepada Allah dan mengesakan-Nya. Diungkapkan dalam firman-Nya: „Beribadahlah kepada Allah dan jangalah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah terhadap ibu Bapak. (An-Nisa : 36).
Dalam hadits lain disebutkan ,Abdullah ibnu Mas’ud ra berkata: „Aku bertanya kepada Rasulullah saw. : "Amal perbuatan apakah yang paling disukai Allah ?" Rasulullah saw. Menjawab : "Shalat pada waktunya". Aku bertanya kembali "Kemudian apa lagi ? :"Berbaktilah pada kedua orang tua „. Aku bertanya lagi :"Kemudian apa lagi ? Rasulullah saw. Menjawab : "Berjihadlah di jalan Allah". (HR. Imam Bukhari ).
Kewajiban berbuat baik kepada orangtua termasuk
menunaikan hak orang tua dan (kewajiban terhadap) mereka berdua, tetap
mentaati keduanya dalam rangka taat kepada Allah swt, melakukan hal-hal
yang membuat mereka berdua senang dan menjauhi berbuat buruk terhadap mereka.
Rasulullah saw. Telah bersabda : „Ingatlah akan
kuberitahukan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar (diulang-ulang
hingga tiga kali), yaitu menyekutkan Allah dan menyakiti kedua orang tua
„(AlHadits).
Sekali-kali Allah tak akan suka terhadap anak
yang membuat murka orangtuanya. Karena sesungguhnya murka orangtua adalah
murka Allah juga. Dan barang siapa membuat Allah murka (karena membuat
kemarahan orang tua), maka dia akan merugi dunia akhirat.
Beberapa perbuatan-perbuatan yang termasuk menyakiti
Ibu dan Ayah antara lain membuat Orang tua Susah atau mencaci maki Ibu
dan Ayah. Berbakti terhadap kedua orang tua merupakan suatu ketetapan,
yang harus dilakukan selagi tidak menyangkut hal-hal yang mengharamkan
barang yang halal atau menghalalkan barang yang haram. Karena sesungguhnya
ketaatan terhadap makhluk itu tidak diperbolehkan apabila menyangkut masalah
durhaka terhadap Sang Maha Pencipta. " Dan kami perintahkan kepada manusia
berbuat baik kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan
lemah yang bertambah- tambah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah
pada-Ku dan ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku lah tempat kembalimu." „Dan jika
keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak
ada pengetahuan tentang itu, janganlah kamu ikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali pada-Ku,
kemudian hanya kepadaKu lah kembalimu, maka akan Kuberitakan padamu apa
yang telah kamu perbuat." (Luqman 14-15).
Pahala berbakti tidak terputus dengan matinya
kedua Orangtua. Dalam suatu hadits dikatakan : „Tatkala kami sedang duduk
di hadapan Rasulullah saw. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan
Bani Salamah- Lelaki itu bertanya:"Wahai Rasulullah, apakah baktiku terhadap
kedua orangtuaku masih tetap ada (pahalanya), jika kulakukan sesuatu sebagai
baktiku terhadap mereka berdua sesudah mereka tiada ?". Rasulullah menjawab
:"Ya, masih ada, yaitu mendo’akan dan memohonkan ampunan untuk mereka;
menunaikan pesan-pesannya, dan mengadakan silaturrahmi kepada orang-orang
yang selalu dihubungi oleh kedua orang tuanya, serta memuliakan kawan-kawan
dekat mereka. (HR. Abu Daud, Ibnu Mjah).
Berlaku lemah lembut terhadap kedua orang tua
Betapa besar kewajiban anak terhadap orang tua, sampai-sampai anak pun dilarang berpaling sedikit pun dari perintah orang tua, walaupun berkata ‘ah’.
Allah swt berfirman : ‘’Maka jangalah kamu katakan pada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, ucapkanlah pada mereka perkatan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap keduannya serta berdo’alah: ‘’ Wahai Robbku, kasihinilah kedua orang tuaku sebagaimana keduanya mengasihi aku diwaktu kecil". (Al Israa 23-24).
Betapa besar kewajiban anak terhadap orang tua, sampai-sampai anak pun dilarang berpaling sedikit pun dari perintah orang tua, walaupun berkata ‘ah’.
Allah swt berfirman : ‘’Maka jangalah kamu katakan pada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, ucapkanlah pada mereka perkatan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap keduannya serta berdo’alah: ‘’ Wahai Robbku, kasihinilah kedua orang tuaku sebagaimana keduanya mengasihi aku diwaktu kecil". (Al Israa 23-24).
Termasuk juga dalam cara berbicara terhadap orang
tua anak harus memperhatikan sopan santun.
Allah swt telah berfirman : „Dan ucapkanlah kepada
mereka berdua perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka
berdua dengan penuh kesayangan." (17:23-24).
Apakah yang dimaksud dengan „perkataan yang mulia
dalam ayat diatas" ? Sa’id ibnul Musayyab menjawab: „Bagaikan bicaranya
hamba sahaya yang berbuat kekeliruan, tehadap tuannya yang galak. Terlebih-lebih
bila kita mempunyai orangtua yang sudah berumur, yang mana dituntut kesabaran
dan ketelatenan tinggi dalam mengurus mereka.
Do’a untuk ayah dan Ibu
Sehubungan dengan kewajiban mendo’akan ibu dan ayah, Allah swt. Telah berfirman : „dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah selian kepada dia dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu dan Ayah kalian dengan sebaik-baiknya, jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-keduanya sampai berumur lanjut jangan kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua denga penuh kesayangan dan ucapkanlah:"ya Rabbi, kasihinilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah menyantuni aku waktu kecil". (QS 17:23-24).
Perintah yang terkandung di dalam makna ayat ini menunjukkan wajib. Oleh karena itu anak harus mendo’akan untuk kedua orang tuanya agar mereka diberi rahmat oleh Allah. Sahabat Rasulullah bernama Sufya ra pernah ditanya seseorang: „Berapa kalikah do’a yang harus dipanjatkan pleh seseorang untuk kedua orang tuanya dalam sehari, atau satu bulan atau satu tahun ?" Sufya ra menjawab :"Kami kira cukuplah seandainya ia mendo’akan kedua orang tuanya pada akhir tahiyyat shalatnya."
Sehubungan dengan kewajiban mendo’akan ibu dan ayah, Allah swt. Telah berfirman : „dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah selian kepada dia dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu dan Ayah kalian dengan sebaik-baiknya, jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-keduanya sampai berumur lanjut jangan kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua denga penuh kesayangan dan ucapkanlah:"ya Rabbi, kasihinilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah menyantuni aku waktu kecil". (QS 17:23-24).
Perintah yang terkandung di dalam makna ayat ini menunjukkan wajib. Oleh karena itu anak harus mendo’akan untuk kedua orang tuanya agar mereka diberi rahmat oleh Allah. Sahabat Rasulullah bernama Sufya ra pernah ditanya seseorang: „Berapa kalikah do’a yang harus dipanjatkan pleh seseorang untuk kedua orang tuanya dalam sehari, atau satu bulan atau satu tahun ?" Sufya ra menjawab :"Kami kira cukuplah seandainya ia mendo’akan kedua orang tuanya pada akhir tahiyyat shalatnya."
Bentuk-bentuk Memuliakan Ibu dan Ayah
Di antara bentuk-bentuk yang luhur tentang berbakti pada kedua orangtua, ialah sebagaimana yang telah diceritakan oleh Al-Qur'an mengenai Nabi Ismail, yaitu tatkala ayahnya, Nabi Ibrahim berbicara kepadanya tentang perintah menyembelih dirinya : "...Ibrahim berkata : "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahya aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Nabi Ismail menyerahkan dirinya secara suka rela untuk disembelih oleh ayahnya; akan tetapi Allah swt. memuliakannya dan bahkan menggantikannya dengan seekor domba yang besar, seperti yang diceritakan oleh ayat berikut ini: "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (Qs. 37-107).
Dan kisah lainnya yang menceritakan, bahwa pada suatu hari khalifah 'Umar ra. kedatangan seorang lelaki. Lelaki itu berkata kepada sang khalifah: "Sesungguhnya aku mengurusi ibuku sebagaimana ia mengurusiku semasa aku masih kecil. Apakah dengan demikian berarti saya telah menunaikan kewajibanku terhadapnya ?". Khalifah 'Umar ra. menjawab: "Tidak". Lelaki itu kembali bertanya: "Mengapa demikian". Khalifah 'Umar ra. menjawab: "Sesungguhnya ibumu mengurusi dirimu dengan harapan agar engkau hidup, sedangkan engkau negurusi dia dan engkau mengharapkan kematiannya.
Di antara bentuk-bentuk yang luhur tentang berbakti pada kedua orangtua, ialah sebagaimana yang telah diceritakan oleh Al-Qur'an mengenai Nabi Ismail, yaitu tatkala ayahnya, Nabi Ibrahim berbicara kepadanya tentang perintah menyembelih dirinya : "...Ibrahim berkata : "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahya aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Nabi Ismail menyerahkan dirinya secara suka rela untuk disembelih oleh ayahnya; akan tetapi Allah swt. memuliakannya dan bahkan menggantikannya dengan seekor domba yang besar, seperti yang diceritakan oleh ayat berikut ini: "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (Qs. 37-107).
Dan kisah lainnya yang menceritakan, bahwa pada suatu hari khalifah 'Umar ra. kedatangan seorang lelaki. Lelaki itu berkata kepada sang khalifah: "Sesungguhnya aku mengurusi ibuku sebagaimana ia mengurusiku semasa aku masih kecil. Apakah dengan demikian berarti saya telah menunaikan kewajibanku terhadapnya ?". Khalifah 'Umar ra. menjawab: "Tidak". Lelaki itu kembali bertanya: "Mengapa demikian". Khalifah 'Umar ra. menjawab: "Sesungguhnya ibumu mengurusi dirimu dengan harapan agar engkau hidup, sedangkan engkau negurusi dia dan engkau mengharapkan kematiannya.
Dari kisah diatas dapat diambil sebuah hikmah
bahwa jasa seorang Ibu tidak dapat dibalas dengan jas anak terhadap dirinya.
Walaupun sang anak sudah berusaha membalasnya dengan cara mengurusinya.
Terlebih-lebih bagi anak yang enggan mengurusi orangtuanya yang sudah beranjak
tua.
Demikianlah Islam memuliakan kedudukan orangtua
dihadapan anaknya. ‘Abdullah ibnu Umar telah menceritakan suatu riwayat
bahwasanya Rasulullah saw. Pernah bersabda : "Keridhoan Rabb terletak pada
keridhoan kedua orangtua, dan kemurkaan Rabb terletak pada kemurkaan kedua
orangtua". (HR. Turmudzi ).
Barangsuapa yang membuat ridhla kedua orangtuanya,
berarti ia telah mendapat keridhoan Allah. Yang demikian itu adalahperisai
dunia yang dapat memasukkan kedua orangtuanya ke surga.
Disadur dari:
Kepada Anakku Selamatlknalah Akhlakmu, Muhammad Syakir
Kewajiban dan hak Ibu, Ayah dan anak, Ahmad 'Isa 'Asyur.
Kepada Anakku Selamatlknalah Akhlakmu, Muhammad Syakir
Kewajiban dan hak Ibu, Ayah dan anak, Ahmad 'Isa 'Asyur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar