Enam Kesalahan Orangtua dalam Mendidik Anak
“Enam kesalahan orangtua dalam
mendidik anak”sebenarnya sudah lama ingin saya tulis, karena materi ini
saya peroleh ketika dulu masih Sekolah Menengah Pertama yang disampaikan
oleh seorang ustadz pada pengajian mingguan. Tulisan ini saya buat
sebagai arsip pribadi dan untuk mengajak orang tua, pemuda, baik yang
ingin menikah, yang sudah menikah, bapak-bapak,ibuk-ibuk, saudara,
saudari agar lebih memahami kehidupan keluarga yang islami yang akan
mendatangkan keberkahan dan rahmatnya Allah swt.
Enam kesalahan orangtua dalam mendidik anak
Ikhwafillah,sering kita beranggapan
bahwasanya seorang anak bandel,nakal,keras kepala serta kerap melakukan
keonaran dan kemaksiatan dikarnakan kesalahan anak itu sendiri yang
mungkin disebabkan oleh lingkungan atau pergaulannya. Kita sering lupa
bahwasanya seorang anak dilahirkan kedunia ini dalam keadaan suci, tapi
orang tuanyalah yang memberi warna hitam ataupun putih kepada
perkembangan anak itu sendiri. Allah SWT berfirman:
“Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW telah bersabda:
“Tidaklah setiap anak yang
lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah
yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti
hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya
buntung (pada telinga)?”
Hadits diriwayatkan oleh
Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa` (no. 507); Al-Imam Ahmad t dalam
Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari t dalam Kitabul Jana`iz (no.
1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no. 4775), Kitabul Qadar (no. 6599);
Al-Imam Muslim dalam Kitabul Qadar (no. 2658)
Anak yang sholeh dan sholehah adalah
dambaan setiap orang tua, tidak banyak atau bahkan tidak ada satupun
orang tua didunia ini menginginkan anaknya menjadi anak yang jahat,
nakal, bahkan durhaka sama orang tuanya. Tidak bisa dipungkiri anak
merupakan anugerah dan bisa juga cobaan bagi orang tuanya, anak itu
anugerah ketika seorang anak berbakti kepada orang tuanya dan anak itu
bisa menjadi cobaan ketika sang anak durhaka kepada orang tuanya. Dalam
kenyataannya sering kita temui anak yang sholeh dan sholehah dilahirkan
dari Ibu dan Bapak yang sholeh, namun tidak sedikit pula orangtua yang
sholeh memiliki anak yang durhaka, misalnya anak nabi Nuh as yang
durhaka kepada orangtunya dan tidak mau diajak masuk kedalam perahunya
Nabi Nuh as, sehingga Allahswt murka dan meneggelamkannya bersama-sama
umat nabi Nuh as yang tidak mau taat kepada ajakan beliau.
Ikhwatifillah, pemuda dan pemudi islam
adalah pemuda harapan bangsa, generasi berikutnya akan ditentukan sejauh
mana kualitas dari pemuda sekarang. Untuk itu dalam membentuk bangsa
yang Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur harus dimulai dari masyarakat
dan keluarga yang islami, hal tersebut tidak semudah seperti membalikkan
telapak tangan, akan tetapi harus ada usaha dari setiap insan manusia
untuk memperbaiki diri sendiri, keluarga, masyarakat sampai kepada
bangsa dan Negara.
Berikut penulis menjabarkan ada beberapa
kesalahan ibu-bapak dalam mendidik anak, sehingga mengapa kemudian anak
tidak penurut,nakal,keras kepala bahkan durhaka kepada orang tuanya,
antara lain :
Pertama, Salah memilih jodoh
Jodoh,rizki dan ajal
merupakan hal mutlak yang harus diterima oleh setiap orang, serta sudah
diatur oleh Allah dengan sebaik mungkin.Dalam hal perkara jodoh meskipun
Allah SWT sudah mengatur akan tetapi harus dipersiapkan dengan sebaik
mungkin, kerna Allah berfirman dalam Al-Quran “ Wanita-wanita yang
tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak
baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk
lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An
Nur:26)
Oleh sebab itu hal
yang harus dipersiapkan adalah memperbaiki diri sebaik mungkin,
mendekatkan diri kepada Allah swt, menegakkan amalan yaumi,bermuamalah
dengan baik, hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal dengan
manusia sehingga kemudian Allah swt lah yang akan memberikan yang kita
mau, kerna Dia lah yang menguasai seluruh alam semeseta dan isinya untuk
dipersembahkan kepada hamba-hambanya yang selalu taat dan bersyukur.
Masa muda adalah masa dimana
terjadi gejolak yang maha dahsyat di dalam diri manusia serta merasa
semua keinginan harus direalisasikan dengan instan, tanpa harus berfikir
panjang lagi. Perasaan ingin mencoba sesuatu hal yang baru dapat
membutakan mata seseorang, mereka dapat berbuat sesuka hati mereka tanpa
memikirkan lagi akibat atau dampak setelah mereka melakukan itu,
misalnya menggunakan narkoba, minum-minuman keras, seks bebas dan
pergaulan bebas sehingga mengakibatkan perzinaan merajalela, yang
berdampak kepada seseorang terpaksa harus menikah kerna harus
mempertanggungjwabkan perbuatannya. Pernikahan seperti inilah yang
membuat rumah tangga seseorang tidak tentram, sehingga berujung kepada
perceraian, akhirnya anak tidak terdidik dan terbina dengan baik, dan
sangat mempengaruhi psikologi seorang anak, alhasil anak menjadi keras
kepala, tidak mau diatur, ingin menang sendiri dan tidak memiliki
sandaran ketika memiliki permaslahan.
Orang seperti ini menganggap
rumah tangga dan pernikahan hanya untuk melegalkan nafsu birahi saja,
padahal rumah tangga dan pernikahan adalah merupan pintu syurga bagi
seorang pemuda dan pemudi seandainya mereka memahmi hakikat pernikahan
itu sendiri. Allah swt menegaskan dalm surat Ar-rum:21
“Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya
ialah diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya
kamu mendapat ketenangan hati dan dijadikan-Nya kasih sayang diantara
kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi
orang-orang yang berfikir”.
Dari
penjelasan ayat di atas berarti tujuan utama pernikahan adalah untuk memberikan ketentraman dan ketenangan hati, kerna sesungguhnya
kegelisahan selama ini adalah bersumber dari hati yang senantiasa
dibisiki dan dibumbui oleh syaitan-syaitan yang senantiasa ingin
menjerumuskan manusia kepada berbuat zina. Kemudiaan dengan hati yang
tenang dan tentram seseorang akan khusuk beribadah termasuk ketika dalam
sholat,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yg cukup masyhur
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,`Wanita
itu dinikahi karena 4 hal : karena agamanya, nasabnya, hartanya &
kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat (Hadis
Riwayat: Bukhari, Muslim)
Rasulullah saw mengajarkan kepada kita
dalam hal memilih jodoh, Rasulullah faham akan watak setiap manusia akan
kecendrungaannya untuk memilih yang cantik, kaya dan keturunannya baik,
namun itu semua akan sirna begitu saja. Akan tetapi ketika seseorang
memilih karena agamanya maka ia akan mendapat separuh agama. Artinya
ketika seseorang mendapatkan istri yang sholehah berarti ia telah
memiliki perisai yang kuat untuk selalu membentengi dirinya ketika ia
nanti lalai dalam beribadah kepada Allah maka ada istri yang selalu
mengingatkan. Jadi ketika kita sudah salah memilih jodoh berarti kita
sudah gagal pada tahap pertama dalam upaya menciptakan rumah tangga yang
islami.
Kedua, salah karena tidak membaca doa ketika hendak bersetubuh
Ikhwafillah, salah satu etika
atau adab yang diajarkan Rasulullah saw kepada kita adalah membaca doa
ketika kita ingin bersenggama dengan istri kita, karena jika tidak setan
bisa masuk kedalam janin istri kita, dan tak menutup kemungkinan ketika
anak kita sudah besar maka dia adalah seorang yang durhaka, melawan
orang tua bahkan sering kita dengar di TV seorang anak memperkosa ibunya
sendiri.Naudzubillah
Dalam sebuah hadist yang
diriwayatkan Abdullah bin Abbas dituturkan, bahwasanya Rasulullah SAW
bersabda: Jika salah seorang diantara kalian hendak mencampuri istrinya,
maka hendaknya sebelum senggama membaca doa: Bismillaahi, Alloohumma jannibnaashshaythoona wa jannibishaiythoona maa rijaktanaa
“Dengan Nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkan
syaitan agar tidak mengganggu apa (anak) yang Engkau rizkikan kepada
kami.” Dan jauhkan setan dari apa-apa yang Engkau karuniakan kepada kami
(anak keturunan). Dengan memanjatkan doa, diharapkan anak yang lahir
dari buah percintaan tidak goyah diperdaya setan, akan tetapi serta
selalu dekat kepada Allah.
Ketiga, Salah karena tidak memberi nama yang baik untuk anak
Ikhwafillah, memberikan nama yang baik pada anak merupakan sesuatu yang harus diperhatikan oleh orang tua selain dari melaksanakan aqiqah dengan menyembelih kambing aqiqah.
Sering orang tua memberi nama anaknya dengan nama-nama yang dia sendiri
tidak mengetahui artinya, misalnya Yohannes, Ronaldo, Rivaldo, Roney
dll. Tidak diragukan lagi bahwa ada kaitan antara arti sebuah nama
dengan yang diberi nama. Hal tersebut ditunjukan dengan adanya sejumlah
nash syari yang menyatakan hal tersebut.
Dari Abu Hurairoh Ra, Nabi
SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar
semoga Allah mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617).
Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan
mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan
dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan
seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya”. Dan jika
anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap yang diberi nama
(Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah ini:
Dari Said bin Musayyib dari
bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang kepada Nabi SAW,
beliau pun bertanya: “Siapa namamu?” Aku jawab: “Hazin” Nabi berkata:
“Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian
bapakku” Ibnu Al-Musayyib berkata: “Orang tersebut senantiasa bersikap
keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa
Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)
Oleh karena itu, pemberian
nama yang baik untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban orang tua.
Di antara nama-nama yang baik yang layak diberikan adalah nama nabi
penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana sabda beliau : Dari Jabir Ra
dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah
engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)
Keempat, Salah kerna tidak memberikan pemahaman agama sejak dini
“Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata
kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku,
janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan
(Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Q.S. Lukman: 13)
BANYAK orang tua yang berharap kelak anaknya menjadi seorang yang sukses dan pintar. Paradigma seperti ini, sebagian besar ditujukan pada kesuskesan dunia semata tanpa memikiran kesuksesan di akhirat. Padahal, jika para orang tua berpikir jernih tentang arti kesuksesan hidup, pasti mereka akan berpikir, betapa pentingnya menyelamatkan anak dari jerat duniawi (godaan hidup di dunia).
BANYAK orang tua yang berharap kelak anaknya menjadi seorang yang sukses dan pintar. Paradigma seperti ini, sebagian besar ditujukan pada kesuskesan dunia semata tanpa memikiran kesuksesan di akhirat. Padahal, jika para orang tua berpikir jernih tentang arti kesuksesan hidup, pasti mereka akan berpikir, betapa pentingnya menyelamatkan anak dari jerat duniawi (godaan hidup di dunia).
Tidak salah berharap anak sukses, akan
tetapi jangan hanya didunia, terlalu sempit harapan itu, karena
kesuksesan akhiratnya jauh lebi penting dan tentu lebih besar. Dunia
hanya perahu tempat kita berlayar, sedangkan akhirat pelabuhan terakhir
kehidupan, dimana tidak akan kita temui usaha untuk hal apapun. Semuanya
telah ditentukan di dunia, maka rasional ukuran kesuksesan umat Islam
adalah menyelamatkan anak dari gelombang-arus dunia yang bisa menyeret
pada kesengsaraan hidup kelak diakhirat.
Oleh karena itu, orang tua muslim
seharusnya sudah mulai mementingkan pendidikan agama pada anaknya sejak
dini. Pentingnya pendidikan ini disebabkan kewajiban mutlak mendidik
anak adalah orang tuanya. Menyayangi anak bukan berarti membuainya
dengan kehidupan dunia semata, namun akhiratnya harus jauh lebih
dipersiapkan sejak dini.
Sebagai ciri perhatian utama orang tua
terhadap pendidikan agama anak. Baik halnya jika mereka (baca:
anak-anak) sejak dini dikenalkan pada Tuhan-Nya. Hal itu tidak sulit,
mengenalkan beragam asma-asma Allah Swt, menjaganya dari pemahaman
mistik yang menjeratnya pada kemusyrikan dan juga memperkenalkan
kekuasan-Nya, “siapa yang menciptakan alam raya ini” misalnya,. Hal ini
bukan sepertinya mudah, memang sangat mudah, jika para Orang tua
mengerti dan melakukannya.
Disamping itu, untuk menumbukan
kesemangatan anak dalam menjalani tahap pengenalan hidup. Seorang anak
harus dimotivasi, bahwa apabila mereka melakukan amal kebaikan (beramal
saleh), maka akan mendapat pahala dan pujian dari Allah Swt. Dan apabila
mereka berbuat hal tidak baik, akan mendapat dosa dan celaan dari Allah
swt.
Dengan demikian, anak itu akan kritis dan
bertanya-tanya tentang Tuhan-Nya, arti pahala dan dosa, alam ini kenapa
ada dan miliki siapa dan lain sebagainya. Sudah barang tentu cara
mendidik seperti ini akan menumbuhkan dua aspek positif. Pertama,
merintis keimanan anak dan yang akan melahirkan perangai yang baik, dan
yang kedua menumbuhkan sikap kritis anak terhadap apa yang belum ia
ketahui. Sajian ruhaniyah ini, kendati hanya berupa perkenalan,
diusahakan agar pemahan tersebut mudah dimengerti.
Seperti pendidikan agama yang telah
dipraktekan Luqman terhadap anaknya di dalam al-Qur’an surat Luqman ayat
13, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
Kata-kata ini memang masih umum (belum diperhalus) sehingga sukar
dimengerti oleh anak. Cuma, yang harus jadi catatan, mengenalkan tentang
eksistensi ketuhanan terhadap anak arti pahala dan dosa. Itu akan
memotivasi anak berbuat kebajikan seperti, memberi pada sesama, saling
tolong-menolong, dan lain sebagainya. Memperkenalkan dosa, akan
menumbuhkan kebiasaan takut terhadap kemarahan Tuhan dan merasa bersalah
jika melakukan hal yang tidak baik, misalnya mencuri, berkelahi,
menghina atau menangisi teman perempuannya (jika ia anak laki-laki), dan
hal lain sebagainya.
Kalau hanya mendidik anak dengan menakuti
akan kekuatan manusia, misalnya, “jangan menjaili anaknya pak anu….
Nanti bapaknya marah”. Wah, hal ini berbahaya. Bagaimana tidak?
Pemahaman itu bisa dimengerti oleh anak karena ia masih kecil, kalau
sudah besar, sedah remaja atau pemuda yang gagah dan jantan. Bisa-bisa
bukan hanya jail tapi lebih dari itu. Kita harus ingat, memberikan
pendidikan agama pada anak sedini mungkin, itu untuk bekal pembentukan
karakternya kelak saat ia mencapai usia dewasa (baligh).
Kalau pendidikan agama dilakukan setelah
ia dewasa, itu tidak mudah karena kemungkinan besar anak jika sudah
dewasa pemikirannya sudah dikonstruk oleh lingkungan. Sehingga, apabila
ia diberi pemahaman lain, apalagi tentang agama yang kadang kala tidak
bisa diterima akal (irasional), sukar orang tersebut menerimanya.
Apalagi, jika ia sudah asyik dengan dunia glamour dan betah bergaul
tanpa batasan keagamaan.
Maka, para Orang tua harus membiaskan
mendidik anaknya terhadap pengetahuan agama agar ia mempunyai perangai
yang baik. Sehingga ia akan terbiasa berbuat kebajikan karena Tuhann-Nya
dan menjauhi hal tercela karena Tuhan-Nya, bukan karena ada bapak
anu…yang lebih kuat.
Kelima, Salah tidak menyekolahkan anak pada sekolah agama
“Mereka hanya mengetahui yang
lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan)
akhirat adalah lalai” [Ar-Rum : 7]
Ayat diatas merupakan peringatan keras
bagi orang yang hanya mementingkan urusan dunia sedangkan urusan
akhiratnya dilupakan. Sebagian besar orang tua menyerahkan pendidikan
anaknya kepada lembaga pendidikan yang berorientasi dunia belaka,
sedangkan masalah aqidah, manhaj, adab dan keselamatan di dunia dan
akhirat diabaikan.
Perhatian mereka hanya
berfokus kepada sekolah yang bisa mengantarkan anaknya menjadi cerdas
dan cepat dalam pekerjaan. Prinsip ini bukan hanya ada pada orang awam
saja, tetapi tokoh agama dan da’i yang menggebu-gebu membela Islam lebih
senang menyekolahkan anaknya pada lembaga pendidikan umum yang tidak
jelas aqidah dan manhajnya daripada menyekolahkan anaknya di pesantren
yang dikelola menurut Sunnah.
Bahkan mereka ragu dan
was-was bila anaknya masuk pesantren karena tidak diterima di sekolah
umum. Mereka khawatir masa depan anaknya suram, tidak bertitelkan
sarjana, tidak diterima sebagai pegawai negeri, tidak bisa mencari
rezeki, dan alasan lainnya.
Inilah kondisi umat Islam pada umumnya, bahkan ada yang sampai hati memarahi anaknya dan tidak memberi nafkah kepada anaknya bila mereka putus kuliah karena ingin mencari ilmu Dienul Islam di pesantren, lantaran dianggapnya durhaka kepada orang tua. Mereka tidak mau bertanya mengapa anaknya keluar dari bangku kuliah. Bahkan bila hal itu terjadi pada putrinya, maka diusir dari rumah, apalagi jika memakai cadar atau hijab muslimah dituduhnya mengikuti aliran keras dan semisalnya, karena orang tua merasa hina dan malu kepada tetangga dan temannya.
Inilah kondisi umat Islam pada umumnya, bahkan ada yang sampai hati memarahi anaknya dan tidak memberi nafkah kepada anaknya bila mereka putus kuliah karena ingin mencari ilmu Dienul Islam di pesantren, lantaran dianggapnya durhaka kepada orang tua. Mereka tidak mau bertanya mengapa anaknya keluar dari bangku kuliah. Bahkan bila hal itu terjadi pada putrinya, maka diusir dari rumah, apalagi jika memakai cadar atau hijab muslimah dituduhnya mengikuti aliran keras dan semisalnya, karena orang tua merasa hina dan malu kepada tetangga dan temannya.
Keenam, Salah karena tidak mendoaakan anak
Doa Ibu bapak untuk
anak-anaknya sangat makbul. Jangan sia-siakan kemuliaan yang Allah
kurniakan kepada ibubapa iaitu mustajabnya doa ibubapa untuk anak-anak.
Rasulullah SAW dalam hadis yang
diriwayatkan Ibnu Majjah menegaskan tiga golongan jika berdoa pasti
dimakbulkan iaitu orang dizalimi, orang musafir dan doa ibu bapa kepada
anaknya. Rugilah bagi sesiapa yang mensia-siakan peluang ini. Setiap
ibubapa pasti mengimpikan anak-anak mereka menjadi orang-orang yang
berjaya di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat. Nah, gunakan kemuliaan
yang Allah kurniakan ini untuk berdoa untuk anak-anak.
Berikut ini adalah panduan doa yang masyhur untuk anak-anak.
Doa supaya anak-anak tetap mengerjakan solat:
Surah Ibrahim ayat 40-41
Ertinya ” Wahai Tuhanku, jadikanlah
aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mengerjakan solat, Ya Tuhan
kami, perkenankanlah doa kami. Tuhanku, ampunilah aku dan ibubapaku
serta sekelian sorang-orang mukmin pada hari hisab nanti“
Doa mohon keturunan yang soleh, penyenang hati dan menajdi orang yang bertakwa
Surah al-Furqan ayat 74
Artinya”Ya Tuhan kami,
anugerahkanlah kepada kami dari isteri dan keturunan kami menjadi
penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertakwa“
Doa anak taat kepada Allah
Surah Al-Baqarah (ayat 128)
Ertinya ” Wahai tuhan kami,
jadikanlah kami berdua ini orang yang patuh dan berserah diri kepadaMU,
dan jadikanlah di kalangan keturunan kami umat yang patuh dan berserah
diri kepadaMU, serta tunjukkanlah kepada kami syari’at cara-cara ibadah
haji kami dan terimalah taubat kami; sesungguhnya Engkaulah Maha
Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.”
Doa anak pandai belajar
Surah Anbiya ayat 79
Artinya ” Maka Kami beri Sulaiman
memahami hukum yang lebih tepat bagi masalah itu; dan masing-masing
(daripada mereka berdua) Kami berikan hikmah kebijaksanaan dan ilmu
(yang banyak); dan Kami tundukkan gunung-ganang dan burung-burung memuji
Kami bersama-sama dengan Daud. Kami sememangnya berkuasa melakukan
semua ini.”
Doa-doa lain;
Doa supaya anak rajin belajar dan rajin ke sekolah:
Surah Taha ayat 1 – 5
Doa memohon rahmat
Surah Ali-Imran, ayat 8-9.
Doa anak lembut hati
Surah Al-Anbiya, (ayat 69) atau Al-Hasyar (ayat 22-24) Surah Al-Imran ayat 200
Doa mohon zuriat yang baik
surah Ali-Imran (ayat 38)
Selagi kita belum menutup mata, selagi
itulah kita harus berdoa untuk anak-anak kerana selain membesarkan,
membimbing dan memberikan ilmu, doa juga menjadi penyebab kejayaan
anak-anak. Semua orang tahu, anak adalah amanah dari Allah, kita akan
ditanya diakhirat nanti tentang tanggungjawab kita dalam membesarkan
anak-anak.
Semoga dengan tulisan “Enam kesalahan
orangtua dalam mendidik anak” ini dapat menginspirasi kita semua untuk
menciptakan sebuah kenyamanan dan ketentraman dilingkungan keluarga kita
sendiri, dan harapan bagi pemuda yang belum menikah untuk bisa membuat
graind design keluarga islami sehingga kita merupakan batubata-batabata
kecil yang saling menguatkan untuk mewujudkan kejayaan dan kemajuan
islam dimasa yang akan datang .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar